Digelandang Menuju Safir Airport Hotel, Kuwait

Aku berjalan pelan untuk menikmati setiap koridor Arrival Hall di Terminal 4, Kuwait International Airport. Tak diburu waktu, karena waktu terbang berikutnya masih lima belas jam lagi.

Berpindah di Transfer Hall, ritme langkah menjadi cepat karena petugas aviation security mengaturnya demikian. Belum semenit, aku sudah di depan screening gate setelah menunjukkan tiket terusan pada staff wanita Kuwait Airways asal Philippina. Sial, proses screening akhirnya menyita mineral waterku.

Melewati duty free zone di lantai 1, insting mengarahkanku untuk mencari tempat ternyaman demi memejamkan mata. Trauma keterlambatan, membuatku terjaga di Bahrain Plaza Hotel sejak jam tiga pagi. Kini kantuk menggelayutiku.

Aku naik ke lantai 2 melalui sebuah lift dekat gate B1. Girang hati, memergoki empat belas sofa panjang berwarna hijau tak berpenghuni tepat di sebelah departure gate D5-6. “Yeaaa….Inilah tempat tidurku”, hati bergumam.

—-****—-

Polisi: “Hello, Sir?”, seorang bergamis putih membangunkanku.

Aku: “Yes, Sir”, aku terperanjat karena terbangun mendadak.

Polisi: “Can me see your ticket and passport?

Aku: “Sure, Sir”, gelagapan mencarinya yang entah terselip dimana.

Polisi: ”Ohh, long transit. What airline did you use before?”

Aku: ”Kuwait Airways, Sir”, kutunjukkan penggalan tiket itu.

Polisi: “Follow me now!”, wah masalah …..

Jantung berdegup lebih cepat ketika mengikuti langkahnya. Tiba di area screening gate semula tiba, melalui pintu khusus aku diarahkan ke meja Customer Service Kuwait Airways. Entah dia bicara apa kepada staff itu, hingga dia memanggilku untuk mendekat. “Come!”, katanya.

Staff Customer Service meminta maaf karena kurang teliti memeriksa tiketku. Walaupun dua tiketku adalah non-connecting flight, karena keduanya menggunakan Kuwait Airways, maka aku mendapatkan benefit menginap di Safir Airport Hotel. Mengingat  penerbangan berikutnya harus menunggu lebih dari delapan jam.

Polisi: “Enjoy your trip”, ucapnya tanpa senyum.

Aku: ”thank you very much, Sir”.

Polisi: ”Welcome”, dia berlalu begitu saja.

Bagiku di bukan polisi bandara melainkan malaikat yang mendadak datang menghampiriku.

Transit card sebagai akses menuju hotel.

Melewati kembali screening gate, aku menuju ke gate B1 seperti yang diperintahkan. Dua ground staff berkebangsaan Philippina mempersilahkan duduk untuk menunggu airline van penjemput. Kemudian, satu diantaranya terlihat sibuk dengan handy talkie memanggil van yang dimaksud.

Dijemput bersama dua penumpang wanita asal Qatar.

Area Lobby

Airline van mengajakku berkeliling bandara dengan leluasa. Kesibukan di area kargo dengan latar pesawat kargo berbadan besar membuatku terpana.

Sepuluh menit kemudian, aku diturunkan tepat di depan lobby. Seorang polisi mendadak berdiri dari duduk santainya di screening gate. Dia begitu serius mengamati backpack tunggalku di dalam Luggage Screening Device. “OK, clear”, sahutnya mengakhiri proses.

Pintu lobby.
Area bersofa.
Area lesehan.
Departure fight information.

Area Kamar

Aku menyusuri koridor menuju ke kamar 113. Senangnya hati bisa mencicipi hotel berharga Rp. 2.500.000 per malam itu. Hanya sayang, aku tak bisa menikmati seluruh fasilitas mewahnya karena serangan flu berat bawaan dari Bahrain. Seluruh tisu kamar dan toilet kuhabiskan untuk melawan ingus bening yang terus mengalir tak terkendali dari hidung.

Koridor menuju ke kamar.
Mendapat twin bed room.
Kamar mandi.
idur yang tak nyenyak.

Pemandangan

Sebentar-bentar terbangun karena penasaran dengan pemandangan di jendela. Tampak pesawat dinas Kerajaan Kuwait yang terparkir tanpa kawalan, setengah jam kemudian mendaratlah pesawat angkut militer Boeing C-17 Globemaster III, jenis pesawat yang dihancurkan Donatello dalam film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows….Keren.

Bahkan aku sempat menikmati deretan jet tempur di salah satu sisi. Memang Kuwait International Airport pada dasarnya adalah pengembangan dari Abdullah Al-Mubarak Air Base milik Angkatan Udara Kuwait. Wah, beruntungnya diriku.

Pesawat Dinas Kerajaan Kuwait.
Boeing C-17 Globemaster III.

Restoran

Telepon dari resepsionis membangunkanku, “Sir, please come down!”. Kujawab singkat “Wait for 10 minutes, Sir”. Aku mengepak perlengkapanku ke dalam backpack. Kemudian bergegas turun. “Why do you bring your backpack and check-out, I just want to give you an information that it’s dinner time”, ungkapnya sambil tertawa. Sontak, aku kembali ke kamar dengan malunya. Kemudian turun lagi untuk bersantap malam.

Al-Dawarza Restaurant.
Teras restoran

Hmmh….Kenangan tak terlupakan.

Kuwait Airways KU 614 dari Bahrain Ke Kuwait

Rute penerbangan KU 614 (sumber: https://www.radarbox.com/)

Tepat jam lima pagi aku mulai mengguyur badan di kamar mandi Bahrain Plaza Hotel. Hari itu juga, aku akan meninggalkan Bahrain dan menuju ke Kuwait. Setelah memastikan segenap perlengkapan tak tertinggal, aku turun ke lantai satu untuk menyerahkan kunci dan menuju ke shelter bus terdekat. Tak jauh, cuma tiga ratus meter di selatan hotel, tepat di depan Manama Cemetery.

Sepuluh menit kemudian Bus asal pabrikan MAN bernomor A1 tiba. Masuk dari pintu depan dan men-tap Go Card untuk membayar tarif senilai Rp 12.000, aku meluncur menuju Bahrain International Airport selama satu jam ke depan.

Tiba di airport pada jam 07:45, aku langsung menuju ke lantai 1. Area check-in yang tak lebih elok dari konter yang sama milik Halim Perdanakusuma Airport. Nomor penerbangan yang tak kunjung muncul di LCD Departure Hall, membuatku memiliki waktu untuk menukar Bahraini Dinar (BHD) tersisa. Rupanya money changer di lantai 1 tak mau menerima Dinar dalam jumlah kecil, beruntung Bahrain Financing Company (BFC) di lantai 0 masih mau menerimanya.

Jam 9:30, konter check-in untuk penerbangan Kuwait Airways KU 614 mulai dibuka. Kujelaskan singkat bahwa aku akan menuju Qatar dengan dua non-connecting flight dan akan transit di Kuwait. Staff pria muda itu hanya sekali bertanya kepadaku perihal Visa Qatar. “Qatar visa is free for Indonesian, Sir”, jawabku mengakhiri percakapan dan dia memberikan dua tiket berlogo burung biru sekaligus. Tiker sendiri aku pesan 9 bulan sebelum keberangkatan.

Kuwait Airways adalah maskapai ke-27 yang kunaiki.

Melewati konter imigrasi dengan mulus, aku segera menuju ke Gate 15 yang berlokasi di pojok ruangan dengan selasar sempit yang terhubung ke jalur aerobridge. Menunggu waktu boarding, aku terus mengamati lalu-lalang Gulf Air, maskapai kenamaan milik Kerajaan Bahrain.

Ruang tunggu keberangkatan.

Sedikit terlambat, aku mulai boarding pada jam 11:51. Rasa tak sabar menggelayuti hati untuk merasakan pertama kalinya penerbangan Kuwait Airways, maskapai milik Kerajaan Kuwait.

Satu jam terlambat.
Business Class.
Economy Class.

Segera mengambil tempat duduk sesuai yang tertera di boarding pass dan mempersiapkan diri untuk penerbangan pendek sejauh 420 km yang akan ditempuh dalam waktu  1 jam 10 menit.

Bangku nomor 17A yang kududuki.
Terima kasih 12Go sudah menjadi Affiliate Parner untuk travelingpersecond.com.
Alburaq inflight magazine.

Tampak bahwa beberapa aircrew maskapai ini berkebangsaan Philippines dan beberapa dari kawasan Afrika. Selama penerbangan, kuperhatikan botol-botol minuman beralkohol tak nampak pada food trolley, sepertinya penerbangan Kuwait Airways adalah penerbangan bebas alkohol….. Keren.

Menonton “The Martian”.
Menu Low Fat Meal (LFML) yang kupesan bebarengan dengan pemesanan tiket.

Siang itu udara di tepian barat daya Teluk Persia tampak cerah. Hal ini menjadikan penerbanganku terasa sangat mulus, tanpa turbulensi sama sekali. Penerbangan yang menyenangkan.

Cuaca cerah di awal Januari.
Berasa gimana gitu, terbang bersama warga Timur Tengah.

Di seperempat terakhir mengudara, pesawat mulai merendah dan menampakkan daratan Kuwait yang tampak gersang dan panas. Aku sendiri tak sabar ingin segera mengenal Kuwait International Airport yang menjadi mainhub Kuwait Airways.

Daratan Timur tengah yang khas coklat berpasir.
Kesibukan di Terminal 2 Expansion Project.
Penampakan kota Kuwait.

Waktu menunjukkan jam 13:35. Selepas pesawat berhenti sempurna, aku segera meninggalkan badan pesawat menuju ke Transit Hall Kuwait International Airport. Aku akan bersabar menunggu hingga pukul empat pagi di keesokan harinya untuk menuju Qatar.

Airbus generasi Neo A320-251N