Dubai Bus No 77: Menjemput Masalah di Baniyas Square

Tetiba terbangun….

Aku tetiba terbangun dari tidur, jam biologisku mengatakan bahwa sudah saatnya untuk melaksanakan Shalat Subuh. Masih mengucek mata, aku memperhatikan sekitar, mencari tengara yang bisa mengarahkanku menuju musholla.

Aku mendapatkan tengara itu di dekat escalator, maka dengan sigap aku menujunya. Dengan mudah aku menemukan Prayer Room itu di lantai atas.

Entah kenapa, Shalat Subuh itu berlangsung sangat khusyu’. Entah karena imamnya memang seorang Arab dengan lafal Al Qur’an yang bagus atau karena rasa bersyukurku kepada Sang Kuasa yang telah mengantarkan pada titik petualangan hinga sejauh ini.

Usai shalat, tanpa membuang waktu, aku keluar dari Terminal 1 dan menuju halte bus yang berlokasi tepat di depan pintu masuk bangunan bandara. Halte itu sudah penuh dengan calon penumpang ketika aku tiba. Membuatku mengalah untuk berdiri sembari menunggu kedatangan bus. Kali ini aku menyasar bus bernomor 77.

Mencari bus menuju pusat kota.
Suasana pagi di depan bangunan bandara.

Tak lama menunggu, bus itu pun datang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku hendak menaiki bus itu. “Apa iya, kota semodern Dubai akan menerima pembayaran cash di atas bus?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Untuk mengusir keraguan itu maka aku bertanya kepada seseorang di halte bus.

“You must buy Nol Card at Dubai Metro station. Go to the top floor, Sir!”, dia menunjukkan jarinya ke lantai atas bangunan terminal bandara.

Mengucapkan terimakasih atas petunjuknya, maka aku segera beranjak dari halte bus demi menuju Airport T1 Station di lantai atas.

Menemukannya dengan mudah maka aku segera mengantri di loket Dubai Metro. Tak berselang lama, akhirnya aku mendapatkan Nol Card seharga 25 Dirham. Kini aku bersiap menuju ke pusat kota menggunakan kartu transportasi itu.

Kembali ke halte, aku akhirnya mendapatkan kembali Dubai Bus Nomor 77. Aku memasuki melalui pintu tunggal di bagian tengah dan mentap Nol Card di fare machine. Aku melihat kartuku berkurang 3 Dirham dan tujuanku adalah Baniyas Square Station yang berlokasi di Distrik Deira.

Sangkala sudah tergelincir jauh dari pukul enam pagi ketika bus yang kunaiki mulai merangsek melalui Airport Road, lalu berlanjut ke Al Maktoum Road untuk menuju tujuan akhir.

Sepanjang perjalanan, suasana masih gelap, tak sedikit pertokoan yang masih menyalakan lampu, begitu pula dengan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan kota masih menyorotkan lampu di sepanjang jalan.

Perjalananku memasuki pusat kota Dubai boleh dibilang tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari enam kilometer dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit.

Berburu Nol Card.
Interior Dubai Bus Nomor 77.
Penampakan Mall Al Ghurair Centre (merah) dan  Al Masraf Building (menjulang di kejauhan) dari Al Rigga Road.
Dubai Bus Nomor 77.
Gerbang Baniyas Square Station.
Salah satu sisi Baniyas Square.

Lewat pukul tujuh pagi, akhirnya bus tiba di Baniyas Square. Baniyas Square sendiri adalah alun-alun utama di Distrik Deira yang merupakan salah satu pusat sejarah kota megapolitan Dubai.

Aku harus segera menemukan penginapan yang sudah kupesan melalu e-commerce penginapan ternama secara daring.

Tak pernah kusangka, di sinilah masalah besar akan datang menderaku……