Zain East Hotel: Alarm Penghenti Dengkuran

Hampir dua jam, aku mengobok-obok beberapa blok Distrik Deira demi menemukan penginapan yang telah kupesan. Tapi selama itu pula aku tak mendapatkan apapun. Kelelahan yang disebabkan oleh terus menerusnya aku memanggul backpack seberat enam kilogram besera folding bag seberat dua kilogram membuatku terduduk lesu di pinggiran trotoar 18th Street.

Jalanan mulai tampak ramai dengan aktivitas warga lokal, tetapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan aktivitas itu. Aku masih tak percaya telah kehilangan penginapan yang kupesan secara daring. Aku telah kehilangan 55 Dirham atas pemesanan itu.

“Tak ada cara lain selain mencari hotel secara langsung di lokasi terdekat”, aku membatin penuh keberatan karena akan menambah anggaran perjalanan lagi.

Aku berpikir cepat, aku harus mencari penginapan dengan harga di antara 55-225 Dirham. 55 Dirham merujuk pada harga kamar yang kupesan secara daring, sedangkan 225 Dirham merujuk pada harga kamar Al Farij Hotel yang kutanyakan beberapa waktu lalu ketika mencari lokasi penginapan.

Dalam benak, aku hanya mengingat ada sebuah hotel di seberang blok yang kulewati beberapa waktu sebelumnya. Aku lupa nama lengkapnya, tetapi begitu ingat dengan lokasinya. Agak sedikit masuk ke dalam gang.

Maka tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dan melangkah menuju hotel tersebut. Sembari mengingat jalan, aku terus melangkah cepat. Aku tak mau kehilangan banyak waktu eksplorasi hanya karena telah kehilangan kamar yang kupesan.

Tak susah untuk menemukannya. Hotel itu tepat berada di sebuah gang di sisi selatan 20th Street.

“Ini hotel bintang satu, harusnya aku mendapatkan harga yang lebih murah dari Al Farij Hotel”, aku berargumentasi dalam hati.

Tanpa ragu aku memasuki lobbynya yang sederhana dengan dinding keramik dominan merah. Menuju meja resepsionis, aku disambut oleh seorang staff pria berperawakan Timur Tengah.

“200 Dirham for rate, Sir”, jawabnya singkat ketika aku menanyakan tarif hotel tersebut.

“Can I get a room for 125 Dirham”, baru kali ini dalam seumur hidup aku menawar harga hotel….Gila memang,

Staff itu hanya tersenyum menatapku.

“I am just a backpacker with minimun budget”, aku lanjut berseloroh.

“Okay….Okay….I give you 150 Dirham. Deal….?”, staff pria itu tampaknya hanya sekali saja memberikan penawaran menarik itu.

“Deal….”, aku bergegas membayarnya dalam mata uang Dollar Amerika karena aku hanya memiliki jumlah Diham yang tidak terlalu banyak.

“You can check-in now”, dia memberikan bonus kepadaku untuk bisa masuk kamar tiga jam lebih cepat.

Usai menyelesaikan masalah administrasi, aku diantar oleh staff laki-laki lain melalui lift untuk menuju kamar.

“I’m from Bangladesh, Sir”, begitu staff pria itu menjelaskan ketika aku bertanya di dalam lift mengenai asal usulnya.

Lewat dari jam sepuluh pagi aku pun sudah memiliki kamar untuk eksplorasiku di Dubai. Rasa letih yang luar biasa, memaksaku untuk merebahkan badan sejenak. Aku memasang alarm untuk satu jam ke depan, khawatir aku akan terlelap hingga gelap.

Benar adanya, alarm itu menjaga waktuku dengan baik. Berbunyi dengan keras di dekat telinga kananku, menghentikan dengkuranku, anggap saja diriku mendengkur dalam tidur karena kelelahan yang teramat sangat. Aku mencuci muka dan bersiap melakukan eksplorasi.

Aku kembali melihat itinerary yang kubuat. “Aku harus merombak aturan main ini, aku tak mau kehilangan destinasi penting hanya karena kebodohanku kehilangan waktu demi mencari penginapan sedari pagi”, aku berseloroh tegas kepada diriku sendiri.

“Burj Khalifia….Ya Burj Khalifa”, aku menjetikkan jari dengan kepercayaan diri tinggi.

Traveler Bed Space For Male: Toko Elektronik Berdinding Kaca Tanpa Aktivitas

Sedari sebelumnya, di salah satu pojok perempatan, tepat di depan toko eletronik berdinding kaca tanpa aktivitas dan masih tertutup rapat, aku terus mencari kata atau tanda “Traveler Bed Space For Male”. Itulah nama yang tertera di e-Conformation Letter yang kudapatkan atas pemesanan kamar di salah satu e-commerce penginapan.

Tak mendapatkan tanda apapun, aku memutuskan untuk menetapkan radius pencarian hingga satu blok di sekitar toko elektronik itu. Aku belum akan mematikan harapan untuk mendapatkan kamar yang telah kupesan.

Bergeraklah diriku ke utara. Di salah satu gang aku melihat ada sebuah gedung tunggal yang tampaknya berfungsi sebagai apartemen, berwarna coklat dan tidak terlalu tinggi. Tampak para penghuni berlalu lalang walaupun tak terlalu banyak. Aku memutuskan masuk ke dalam lobby yang tak berpenjaga.

“Good morning, Sir. Can you help me? Do you know this place?”, aku menunjukkan e-confirmation letter yang kupegang sedari tadi kepadanya.

“I’m not sure about this place. I think I don’t know this place, Sir”, dia membaca lembaran yang kuberikan sembari menggaruk-garuk kepalanya sebagai pertanda dia kebingungan.

Aku pun meninggalkan Gedung itu setelah lelaki paruh baya itu meluncur ke atas menggunakan lift berukuran kecil.

Aku gagal di percobaan pertama.

Kasihan banget tuh orang….Kehilangan kamar.
Cari kemana ya?….Ya Allah.

Untuk selanjutnya langkahku tiba di ujung blok. Masih tak nampak tanda-tanda yang kucari, aku memutuskan mengikuti kontur blok menuju timur. Hingga aku tiba di sebuah tailor shop dengan dua pekerja yang tampak sibuk menjahit sebuah gamis. Tanpa pikir panjang, kuketuklah pintu toko jahit itu. Maka tergopohlah seorang dari mereka ke arah pintu setelah melihat keberadaanku.

Masih menanyakan dengan cara yang sama aku mencoba bercakap dengannya. Aku merasa kali ini percakapan hanya berjalan searah. Lelaki berperawakan Asia Selatan itu, Bangladesh tebakanku, hanya menunjukkan jarinya pada nama peninginapan di e-confirmation letter yang kutunjukkan kepadanya.

Traveler Bed Space For Male….Uhmmm….Uhmmmmm”, dia menatapku setelah membaca, kemudian membuang pandangannya lagi pada surat konfirmasi yang kupegang. Kali ini telunjuknya menunjuk pada alamat penginapan yang kupesan.

Maka setelahnya, dia melambai-lambaikan tangan kanannya, pertanda dia menyerah tanpa mampu sepatah katapun mengucapkan kata-kata,

Percobaan kedua pun sama….Mengalami kegagalan.

Langkahku kini tiba di ujung blok yang lain. Konturnya memaksaku menuju ke selatan. Di sisi itu aku sudah kehilangan akal sehat, aku tetiba memasuki sebuah flat empat lantai dengan desain melebar di sepanjang jalan.  Ada spanduk besar di atasnya dengan bacaan singkat “ To Let”, entah kenapa banyak bangunan di Distrik Deira yang menyertakan kata itu.

Tak menemukan siapapun di lantai pertama, aku melangkah ke lantai kedua. Hanya sepi yang kudapat di lantai kedua, membuatku terus menanjak hingga lantai ketiga. Bahkan sampai lantai keempat pun, tak ada siapa-siapa yang kutemukan. Aku hanya mendengar suara-suara penghuni di kamarnya masing-masing.

“Mungkin masih terlalu pagi”, bagitulah alasan yang kubuat sendiri untuk para penghuni yang masih enggan keluar kamar.

Melangkah gontai mengantarkanku tiba di ujung terakhir blok yang akan kulewati. Di blok sebelah selatan itu aku dihadapkan pada sebuah hotel bintang tiga, Al Farij Hotel namanya. Wajahku berubah sumringah, aku hanya berharap dengan bertanya kepada siapapun yang bekerja di bidang perhotelan akan memberikan titik terang atas keberadaan kamar yang kupesan.

Sebagai langkah pertama, aku bertanya kepada security yang bertugas. Maka bertemulah aku dengan petugas keamanan asal Philippina di depan hotel.

“The address is good….This is a same street with this hotel….Uhmmm. But, I never know about this hotel”, begitulah dia berbicara sambil tetap mengarahkan pandangannnya ke surat konformasi yang kuberikan.

Masih berusaha untuk membantu, dia membawaku ke dalam lobby hotel, berharap teman resepsionisnya yang juga asal Philippina bisa menbantuku.

“Oh, I’m sorry, Sir. I don’t know about this hotel before”, dia bicara sembari menatapku penuh kesedihan. Mungkin perempuan muda itu berempati kepadaku yang sama-sama berasal dari Asia Tenggara.

Aku merasa harapanku telah sirna. Aku pun memutuskan untuk memesan kamar di Al Farij Hotel yang sekarang aku sedang berada di lobbynya.

“How much the cheaper room in this hotel, Ms?”, aku bertanya kepada resepsionis muda itu.

“The remain room which we have is about 225 Dirham in rate, Sir”, perempuan itu menjelaskan.

“Oh, Okay”….Bukan, aku bukan menerima harga itu. Melainkan menolaknya dan memutuskan untuk pergi dari hotel itu. Harga itu terlalu mahal bagiku.

Mengucapkan terimakasih kepada resepsionis muda dan security tersebut, aku kembali melangkah. Kali ini aku jelas menuju ke titik semula. Itu artinya, hingga kembali ke titik awal, aku tak menemukan dimana penginapan yang telah kupesan.

Aku kembali menatap lekat toko elektronik berdinding kaca tanpa akivitas yang masih saja tak memberikan pentunjuk.

Ketika berdiri termangu, mendekatlah seorang Asia Tenggara. Dia menatap wajaku lekat-lekat sebelum memulai percakapan. Ya Tuhan, kini aku mendengar Bahasa Tagalog melintas di telingaku. Aku menunggu lelaki itu hingga akhir kata yang dia ucapkan. Lalu aku membalasnya,

“I’m sorry, brother. I don’t understand Tagalog. I’m from Indonesia”, aku bicara padanya dengan rasa sedih. Sepertinya dia juga sedang mencari sesuatu.

“Come on….Think something, Donny!”, naluriku kembali menyela untuk tak terlalu lama larut dalam kebingungan.

Aku kembali melangkah, kali ini menuju ke blok lain yang berada di sebelah barat.

Menjelajah sisi demi sisi, jengkal demi jengkal, gang demi gang, aku tak kunjung menemukan petunjuk. Hingga aku bertemu dengan dua pemuda yang sedang duduk di tepi trotoar dengan segelas kopi di masing-masing tangannya. Maka kuputuskan bertanya untuk terakhir kali kepada mereka.

Kedua pemuda itu melihat e-confirmation letterku dengan seksama. Mereka detail melihat informasi demi informasi yang tertera. Bukan nama atau alamat penginapan yang dia sasar. Melainkan koordinat dari letak penginapan itu.

Berburu koordinat di layar telepon pintar, mereka akhirnya mereka menemukan lokasinya. Aku dengan sigap memfoto koordinat yang tertampil di layar telepon pintar itu.

“Yesss”, hatiku berteriak girang setelah mendapat informasi itu.

“Hi, by the way, Where are both of you coming from?”, pertanyaan terakhir terlontar dari bibirku.

“We are Russian but lived in Dubai since we were kids”, salah satu mereka menjawab setelah menyeruput kopi di cangkir kertasnya.

Mencoba di blok lain.
Dikiranya sudah dapat….Ternyata prankkkk.

“Oh, yaaah….I myself come from Indonesia. Thanks you, brother”, aku memperkenalkan sekaligus undur diri dari hadapan mereka berdua.

Kini aku melangkah untuk menemukan koordinat itu, tak jauh, aku hanya menempuh langkah dalam lima menit dan akhirnya aku menemukan titik penginapan itu.

Ya, titik yang sama dengan titik semula dimana aku mengalami kebingungan….Sebuah toko elektronik berdinding kaca tanpa aktivitas.

“You are in big trouble, Donny….Big trouble”, aku menyumpahi diriku sendiri.