Menuju Zain East Hotel: Berjibaku Mengambil Bacpack

Setidaknya aku bisa menepati waktu kepada diriku sendiri. Tepat dua jam lamanya aku menikmati area Umm Suqeim dengan pemandangan taman dan pantai terbaik.

Tepat pukul empat sore aku sudah mengemasi kamera mirrorlessku ke dalam folding bag. Aku melangkah pergi meninggalkan Umm Suqeim Beach.

Aku melangkah cepat menyusuri jalanan di sisi barat Umm Suqeim Park yang merupakan jalan tembus menuju jalanan utama. Dengan cepat aku tiba di perempatan yang terbentuk dari Jumeirah Beach Street dan Al Thanya Street. Menyeberangi perempatan itu, aku menyasar halte bus Umm Suqeim, Park 2. Itulah sisi yang tepat untuk mencegat Dubai Bus No. 8 untuk kembali lagi menuju area Al Fahidi di pinggiran Dubai Creek.

Hanya perlu menunggu lima menit untuk menunggu bus itu tiba di halte tempatku menunggu. Dengan wajah sumringah aku menaiki bus itu.

Aku akan tiba di bandara tepat waktu malam ini”, aku mengepalkan tangan di bangku belakang.

Bus melaju perlahan meninggalkan area Umm Suqeim.

Perjalanan sedikit melambat di perjalanan karena seorang ibu dengan anak kecilnya yang menaiki bus mendapatkan masalah karena Nol Card yang dimilikinya kehabisan saldo. Pengemudi bus berpeawakan Asia Selatan itu tampak cukup bersabar membantu ibu tersebut. Tetap dibawanya sang ibu lalu pada sebuah halte bus yang berukuran besar, sang pengemudi turun untuk membantu ibu tersebut men-top up saldo Nol Cardnya di RTA Bus Ticket Machine.

Usai kejadian itu, bus pun berfokus menuju Al Ghubaiba Bus Station.

Setelah menempuh perjalanan sejauh hampir dua puluh kilometer dan waktu tempuh hampir satu jam lamanya, akhirnya Dubai Bus No. 8 mulai merangsek mendekati area Al Fahidi yang arus lalu lintasnya semakin padat.

Aku bersiap diri untuk turun di Al Ghubaiba Metro Station sebelum bus benar-benar tiba di depot terakhirnya, Al Ghubaiba Bus Station.

Aku berhasil turun di Al Ghubaiba Metro Bus Stop yang berlokasi di sisi barat Al Falah Street, tepat berseberangan dengan Al Shindagha Museum.

Sebelum menyeberangi jalanan, mataku cukup awas melihat keberadaan stasiun Dubai Metro di seberang timur jalan. Itulah Al Ghubaiba Metro Station yang menjadi tujuanku.

Umm Suqeim, Park 2 Bus Stop.
Dubai Bus No. 8 akhirnya tiba juga.
Pemandangan taman bunga yang indah di sepanjang perjalanan.
Al Ghubaiba Metro Bus Stop di tepian Al Falah Street.

Kini perjalananku menuju penginapan akan berpindah moda menggunakan kereta.

Aku bergegas memasuki stasiun dan menuju ke ruangan bawah tanah untuk menangkap keberangkatan Dubai Metro Green Line terdekat. Aku akan menuju tujuan akhir di Baniyas Square Station yang terletak di Distrik Deira.

Tahapan perjalanan terakhir itu akan melalui terowongan bawah air milik Dubai Metro yang berada tepat di bawah aliran air Dubai Creek.

Perjalanan menggunakan kereta ini menempuh jarak sejauh tiga kilometer dan waktu tempuh sekitar seperempat jam.

Menjelang pukul setengah enam sore akhirnya aku tiba di Baniyas Square Station.

Tiba di stasiun Dubai Metro.
Area parkir sepeda di depan stasiun.
Gerbang Al Ghubaiba Metro Station.
Ruangan bagian dalam Al Ghubaiba Metro Station.

Secara keseluruhan perjalanan, aku membayar tarif sebesar 12,5 Dirham. 5 Dirham untuk membayar tarif bus dari Umm Suqeim Park menuju Al Ghabaiba Metro Station, sedangkan 7,5 Dirham untuk membayar tarif Dubai Metro dari Al Ghubaiba Metro Station menuju Baniyas Square Station.

Kini perjalananku menuju penginapan hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer. Aku akan berjalan menujunya lalu mengambil backpack yang kutitipkan di resepsionis Zain East Hotel. Dan untuk kemudian aku akan bergegas menuju Dubai International Airport demi menuju ke Muscat.

Dubai Museum: Bagian dari Tembok Kota Bur Dubai

Membelakangi Bur Dubai Al Kabeer Masjid, aku menatap kuat bangunan mirip benteng di hadapan. Aku berdiri tepat di sisi utaranya dan tampak area parkir sisi utara itu dipenuhi oleh kendaraan. Sebuah pertanda bahwa bangunan benteng itu sedang ramai dikunjungi para wisatawan.

Kuperhaikan jelas bahwa keramaian itu terletak di sisi barat benteng, tampak bendera Uni Emirat Arab berkibar megah berdampingan dengan bendera Dubai Culture & Arts Authority di sisi itu.

“Itu pastilah pintu masuk menuju benteng”, aku mengambil kesimpulan cepat.

Kuputuskan untuk berjalan melingkar memotong arus Ali bin Abi Taleb Street dan aku berhasil mencapai sisi barat benteng dengan cepat. Benteng itu terletak berseberangan dengan gedung Kementrian Keuangan Uni Emirat Arab.

Dubai Museum”, aku membaca papan nama itu.

Memasuki area depan maka pemandangan tiga buah meriam kuno menyambutku. Hanya perlu membayar uang masuk sebesar 3 Dirham untuk bisa menikmati sisi dalam Dubai Museum.

Inilah bekas benteng abad ke-18 yang kini bertransformasi menjadi museum pameran multimedia tentang sejarah & warisan budaya lokal. Al Fahidi Fort adalah nama asli benteng tersebut.

Di dalamnya tertampil sejarah Dubai sebelum minyak bumi ditemukan di Uni Emirat Arab. Disebutkan pada masa itu, mayoritas warga lokal masih memperjuangkan ekonominya dengan menyelam untuk berburu mutiara dan mencari ikan.

Perahu-perahu masa lalu yang berusia lebih dari seabad dan digunakan untuk berburu hasil laut pun ditampilkan di museum ini.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah Uni Emirat Arab menyediakan lahan seluas lebih dari satu hektar untuk menempatkan Dubai Museum di kawawan Al Fahidi Historical District tersebut.

Sisi utara Al Fahidi Fort.
Yuk masuk….
Ini dia bagian depannya.
Dinamakan juga sebagai Dubai Museum.
Dubai Museum sisi selatan.

Dari papan informasi di pintu museum, aku mengetahui informasi mengenai waktu berkunjung di Dubai Museum, yaitu hari Sabtu hingga hari Kamis (pukul 08:30 sd 20:30), hari Jum’at (pukul 14:30 sd 20:30) dan Hari Libur Nasional (pukul 08:30 sd 20:30).

Larangan umum seperti menyentuh benda bersejarah di dalam museum, makan dan minum di dalam museum, merokok, membuang sampah sembarangan, anak-anak harus ditemani orang dewasa dan pengawasan oleh CCTV sudah pasti ada pada papan informasi

Namun dua hal yang membuatku antusias yaitu larangan membawa tas berbobot berat ke dalam museum, jika pengunjung membawa tas jenis itu maka dia harus menaruhnya di pos keamanan. Satu lagi yang membuatku hatiku riang adalah tersedianya pemandu wisata gratis untuk pengunjung.

Pemandu wisata gratis inilah yang kumanfaatkan sebaik mungkin untuk menjelajah seisi museum dengan banyak informasi yang kuterima.

Pemandu wisata itu menjelaskan dengan gamblang bahwa tembok kota adalah wujud arsitektur yang menonjol dari konteks perkotaan pada kota-kota tua. Tembok tersebut mengelilingi kota untuk bertahan dan menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Sepanjang sejarah, terdapat banyak contoh dinding kota yang memainkan peranan penting dalam melindungi kota, sebut saja Kota Kairo, Damaskus dan Baghdad.

Di masa lalu, Kota Dubai sendiri memiliki dua tembok kota. Tembok kota tertua dibangun di kawasan Bur Dubai yang dibangun pada tahun 1.800. Tembok itu mengelilingi kota tua yang didalamnya termasuk Al-Faheidi Fort, Masjid Agung Bur Dubai, dan perumahan warga. Sedangkan tembok kota kedua dibangun di Distrik Deira yang dibangun pada pertengahan Abad ke-19.

Tembok kota Bur Dubai dibangun menggunakan batu koral dan gypsum. Ketebalannya mencapai 50 cm, dengan panjang tak kurang dari 600 meter dan ketinggian mencapai 2,5 meter. Sayangnya di permulaan Abad ke-20, tembok kota itu dihancurkan untuk mengakomodasi pemekaran kota.

Satu-satunya bukti tersisa dari tembok kota tersebut tentunya adalah pondasinya yang kemudian direstorasi pada tahun 2001 oleh Bagian Bangunan Bersejarah Pemerintah Kota Dubai.

Hmhhh….Menarik ya.

Jadi inget tembok kota Batavia yang ditemukan pula pondasinya…..

Menyeberang Dubai Creek Menuju Bur Dubai

Surya mulai sedikit tergelincir menuju ufuk barat, tapi udara masihlah kering dan menyengat. Kuperhatikan kulitku semakin legam saja sejauh petualangan berjalan.

Sangkala bertengger di angka satu waktu setempat, bertepatan dengan rasa gembiraku karena telah menyentuh garis finish dalam mengeksplorasi kawasan heritage Al Ras di Distrik Deira. Tak kurang dari sepuluh spot warisan yang berhasil aku tengok di kawasan tersebut.

Pada akhir tahapan, aku berdiri di Deira Old Souq Water Taxi Station demi menunggu kedatangan perahu tradisional sebagai satu akses terbaik dan terhemat menuju kawasan Bur Dubai yang berlokasidi seberang selatan Dubai Creek.

Tak perlu menunggu lama, perahu penuh penumpang itu tiba. Merapat pelan ke dermaga dan mengantarkan setiap penumpangnya menuju ke tepian sungai.

Beberapa menit merapat, perahu itu telah kosong kembali. Tampak pengemudinya keluar dari lambung perahu dimana mesin ditempatkan. Kemudian mengambil sebuah jerigen bahan bakar yang diberikan oleh rekannya dari tepian sungai. Tampaknya sang pengemudi sedang mengisi bahan bakar untuk operasional perahu tersebut.

Tak lama tentunya….

“Come…Come….”, pengemudi perahu berperawakan khas Asia Selatan itu melambaikan tangannya kepada calon penumpang yang berada di dermaga.

Tanpa keraguan, aku pun melompat ke atas perahu dengan senang hati walaupun itu bukan kali pertama aku menaiki perahu.

Beda, Boy….ini perahu di Dubai. Perahu yang sering kulihat di layar televisi ketika menyaksikan program siaran TV tentang pariwisata Dubai….Bersyukur sekali, aku benar-benar menaikinya sekarang”, hatiku bergumam menang.

Dalam sekejap perahu itu telah penuh penumpang, sang pengemudi pun berkeliling menarik ongkos kepada segenap penumpangnya. Aku menyerahakan koin seharga 1 Dirham kepadanya sebagai biaya menyeberangi Dubai Creek yang memiiki lebar tak kurang dari dua ratus meter.

Deira Old Souq Water Taxi Station.
Menuju ke perahu.
Perahu pun tiba.
Itu tuh pelampungnya.
Gaya banget sih….Wkwkwk.
Dubai Creek yang tenang.
Bur Dubai Water Taxi Station.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa taksi air itu memiliki kapasitas 20 penumpang dengan tempat duduk saling berpunggungan . Taksi air itu memilik panjang hampir 12 meter, memiliki naungan di atas bangku penumpang dimana sisi atap bagian dalamnya dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan pelampung.

Perahu pun mulai melintasi Dubai Creek . Saat itu, permukaan sungai memiliki riak yang cukup tenang sehingga membuat hati sedikit tenang ketika melakukan penyeberangan. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk menyeberangi Dubai Creek.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa perahu itu tidak berlayar dengan jalur pelayaran yang tegak lurus dengan badan sungai melainkan memiliki jalur pelayaran sedikit menyerong ke arah barat.

Setiba di bagian seberang sungai, aku diturunkan di Bur Dubai Water Taxi Station. Yang kuingat hanyalah dua nama distrik yang mengapit dermaga tempatku diturunkan, yaitu Historical Shindagha District yang berada di utara dari tempatku berdiri dan Al Fahidi Historical District di sisi selatannya.

Lalu….Kemanakah aku harus melangkah?