Batu Caves….Jejak India di Utara Kuala Lumpur

A. Rute KLIA2 ke Batu Caves

Step 01. KLIA2-KL Sentral

Menuju lantai 1 yang merupakan letak dari Transportation Hub KLIA2, aku bergegas menuju konter penjualan Skybus. Tarif sebesar Rp. 35.000 cukup untuk memindahkanku dari KLIA2 ke KL Sentral yang terletak di tengah kota Kuala Lumpur. Perjalan selama 50 menit kuhabiskan dengan melihat suasana jalanan negara bagaian Selangor.

Step 02. KL Sentral-Batu Caves

Perjalanan Tahun 2014

Dari KL Sentral, aku menuju konter tiket KTM Komuter Laluan Seremban untuk mencapai Batu Caves. Saat itu tiket komuter tidak bisa didapatkan di automatic fare machine seperti layaknya tiket LRT di Kuala Lumpur. Jadi Aku harus menuju ke loket untuk membelinya secara manual. Harganya cukup murah, hanya Rp. 7.000 untuk one-way. Jarak tempuh KL Sentral ke Batu Caves adalah 13 km dan waktu tempuhnya 45 menit.

Perjalanan Tahun 2018

Lihat perjalanan kedua dan terbaruku ke Batu Caves di link ini: Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

B. Batu Caves Selayang Pandang

Koridor antara stasiun komuter ke wisata Batu Caves.

Melangkah ringan melalui exit gate di Stasiun Batu Caves dan mengumpulkan rasa penasaran yang semakin naik kadarnya begitu berpindah di koridor pejalan kaki berpelindung. Koridor yang ujungnya adalah pintu masuk sebelah kanan dari wisata Batu Caves.

Kecil gue….dikangkangin.

Memasuki dari sisi kanan, patung Dewa Hanoman setinggi 15 meter menyambut. Hijau tubuhnya menambah kesakralan Sang Raja Wanara. Tak bisa disangkal karena memang para monyet berekor panjang hadir di sekitar kuil yang letaknya berdampingan dengan si patung.

Si cigak yang mengincar kameraku….
Kuil yang cukup ramai dengan pengunjung.
Dupa yang dibakar di depan kuil.

Ramayana Cave Suyambu Lingam di sisi kiri kuil berwarna hijau itu dengan khusyu’ menyajikan epik Ramayana melalui beberapa patung sang tokoh yang menyiratkan alur cerita. Sisihkanlah Rp. 17.500 untuk sekedar menikmati keagungannya.

Gerbang Ramayana Cave.

Sengatan Sang Surya tak menghalangi antusias dan semangatku untuk hadir di depan Venkatachalapathi Temple yang beralaskan 19 anak tangga. Tempat memuji jelmaan Wisnu yang sedang menjalankan tugasnya sebagai “penghancur dosa”. Kenalkah kamu dengan Dewa Wisnu yang berkendara raja para burung “Garuda” dan bersenjatakan cakra?

Lepaskan sepatumu sebelum menaiki tangganya !.

Untuk memastikan wisatawan tak melewatkan satu bagian pun dalam wisata Batu Caves, pengelola wisata mempersiapkan penunjuk arah yang mengarah ke 17  bagian bagian berbeda.

Ini dia….

Memahami sejarah Hindu melalui keindahan seni, itulah yang ingin dipamerkan Cave Villa. Rp. 52.500 adalah nilai yang cukup mahal untuk menjelajah gua ini.

Beli tiket di situ ya.

Dewa Siwa yang diilustrasikan sebagai Nataraja Sang Penguasa Tandavam (nama tarian religi dalam Hindu) dan Dewa Murugan yang pada hakikatnya dilahirkan sebagai 6 bayi yang pada akhirnya keenamnya menjelma menjadi satu sosok Dewa Murugan yang perkasa adalah hal yang ingin dijelaskan dalam gua ini.

Menjejak bagian utama Batu Caves, pelataran luas penuh dengan merpati yang selalu gemas memohon makanan dari wisatawan.

Begitulah merpati….Jinak menipu.
Bangunan peribadatan di pelataran Batu Caves sedang direnovasi.

Membesuk patung Dewa Hindu tertinggi di dunia, Ber-ibu Dewi Parwati dengan ayah Dewa Siwa. Dewa Murugan namanya….Bersenjata tongkat suci dan keagungannya direpresentasikan menjulang setinggi 43 meter.

Warna emas yang menjadikannya sangat menonjol di pelupuk mata siapapun.

Persiapkan betismu untuk menapakai 272 anak tangga menuju kuil utama yang bersembunyi di atas bukit kapur berusia 400 juta tahun.

Berpakaian sopan ya…Usahakan jangan bercelana pendek.

Udara lembab dan suhu sedingin almari es menjadikan gua ini menjadi tempat yang khusyu’ di tengah menyengatnya area di sekitar perbukitan.

Perpaduan pencahayaan dan tata letak patung para Dewa menjadikannya sakral.

Sebelum meninggalkan wisata ini, kamu bisa mengunjungi Gheeta’s Souvenir Shop di kiri depan pelataran.

Toko souvenir.
Parking lot.

Kalau kamu tidak mau beli souvenir, bisa juga membawa oleh-oleh jajanan khas India yang banyak di jual di kanan depan pelataran.

Jajanan India dengan aroma khas India.

Tak bisa membeli oleh-oleh atau souvenir karena tak punya bagasi pesawat sepertiku?….Nikmati saja makan siang atau minum air kelapa muda di kantin sekitaran Batu Caves.

Dua kali berkunjung….Dua kali pula lunch disini.
Nasi lemak versi India….Hahaha.
Es kelapa muda diminum diteriknya matahari….Beuh.

Tentu kamu tahu Batu Caves ini, karena kepopulerannya….Tapi coba dalami tentang nilai yang bisa didapatkan dari wisata ini.

So….Batu Caves….Ayo meluncur kesana!.

24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….

KTM Laluan Seremban….Kereta Andalan Wisata Batu Caves.

Ketibaanku yang terlalu siang di KL Sentral membuat jadwalku berantakan. Hari pertama yang seharusnya kuhabiskan di Genting Highlands harus kutunda.

Kamu perlu balik pada waktu malam jika kamu pergi siang ini. Jika kamu pulang petang kamu tak akan mendapat apa-apa di sana”,seloroh staff konter penjualan tiket bus ke Genting.

Daripada aku berjibaku di malam hari dalam kondisi yang belum mendapatkan hotel, lebih baik aku menunda niatku ke Genting dan akan kutunaikan di keesokan harinya.

Aku segera merubah tujuan….Yess, Aku bertolak ke Batu Caves. Cara paling mudah dan cepat karena kereta menuju ke sana bertolak dari KL Sentral.

Tapi Gaes, kereta dengan rute KL Sentral-Batu Caves ini beroperasi pada tahun 2014 ya. Karena ketika aku datang ke Kuala Lumpur pada April 2019, rute KL Sentral-Batu Caves sudah berubah. Lihat perubahan rute itu di link ini ya:

Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

—-****—-

Kali ini aku tak akan berfokus pada rutenya, tapi aku akan membahas tentang keretanya….Yups, KTM Laluan Seremban (Kereta Tanah Melayu-Seremban Line).

Teknologi China di tujuan India.

Mengapa demikian?

Kereta yang melaju di jalur ini adalah kereta listrik buatan China….Sedangkan tujuan paling favorit di jalur ini adalah Batu Caves yang merupakan tempat peribadatan warga Malaysia keturunan India.

Memang beberapa kurun waktu terakhir ini, Malaysia lebih dahulu daripada Indonesia dalam menggenjot infrastruktur dengan pinjaman dana dari pemerintah China.

KTM Laluan Seremban memiliki dua stasiun paling akhir yang disinggahi yaitu stasiun Port Klang di barat daya dan stasiun Batu Caves di utara. Secara keseluruhan kereta ini melewati 27 stasiun.

KTM Laluan Seremban adalah rute kereta komuter. Sedangkan kereta komuter di setiap negara dibuat untuk menghubungkan pusat kota dengan kawasan pinggiran kota dan mayoritas penumpangnya adalah para komuter atau penglaju.

Sedikit berbeda dengan Indonesia yang menggunakan kereta bekas berkualitas dari Jepang untuk dijadikan kereta komuter, Malaysia lebih memilih menggunakan kereta buatan China dengan bentuk yang sedikit futuristik.  Aku sangat berhasrat mencobanya ketika melihat bentuk kereta ini yang mirip kereta peluru di beberapa negara maju.

Percobaan naik kereta komuter dimulai dari stasiun KL Sentral.

Tiket tidak dijual di Automatic Fare Machine seperti pada MRT, LRT dan monorail Kuala Lumpur, tapi tiket kereta komuter ini dijual secara tunai di sebuah konter penjualan tiket.

Pada tahun 2014, harga tiket untuk menuju stasiun Batu Caves dari KL Sentral adalah Rp. 7.000

Tiket KTM Batu Caves ke KL Sentral. Tahun 2019, tiket dijual dalam bentuk pass card.
LCD Info Screen di platform KTM Laluan Seremban

Berikut penampakan interior dari KTM Laluan Seremban

Bangku menghadap ke samping.
Bangku menghadap ke depan.
Waktu itu penumpang sangat sepi.
Tujuh larangan dalam kereta.

Adapun larangan yang diterapkan di kereta adalah merokok, makan dan minum, membuang sampah sembarangan, membuang permen karet, berbuat asusila, membawa barang-barang berbahaya dan membawa binatang.

Penampakan gerbong kereta….Ciamik deh.
Slogan dan semboyan yang dikeluarkan oleh YAB PM dan diiklankan di setiap bangku kereta.

YAB PM kepanjangannya adalah Yang Amat Berhormat Perdana Menteri. Semboyan 1Malaysia adalah kampanye untuk menyatukan satu bangsa Malaysia tanpa memandang etnis dan perbedaan budaya. Seperti Bhinneka Tunggal Ika lah maksudnya.

KTM ini adalah buatan CSR Zhuzhou Electric Locomotive Co. Ltd.

CSR Zhuzhou Electric Locomotive Co. Ltd adalah satu dari sekian banyak manufaktur kereta listrik di China. Reputasi perusahaan ini sangat keren karena mensuplai kereta listrik untuk Macedonian Railways di Eropa Timur, Shanghai Metro di China dan Rapid KL di Malaysia.

Enam fasilitas yang disediakan di KTM Laluan Seremban.

Kereta dengan teknologi modern ini memiliki beberapa fasilitas bagus seperti kursi prioritas, kokpit untuk masinis yang modern, dynamic route map disetiap pintu kereta untuk memudahkan penumpang dalam memantau keberadaan kereta, dua gerbong khusus wanita di setiap kereta, LCD info screen di setiap gerbong dan tentunya CCTV.

Berikut penampakan stasiun Batu Caves yang merupakan pemberhentian tarakhir dari kereta ini.

Stasiun Batu Caves.
Stasiun Batu Caves di sisi yang lain.

Nah….Kalau kalian ke Kuala Lumpur, cobain kereta ini ya!

Bus dari KLIA2 ke KL Sentral

KLIA2 adalah terminal paling populer bagi para traveler untuk menyinggahi Malaysia. Jadi, jika kamu satu di antara mereka maka peluangmu untuk mendarat di KLIA2 (Terminal 2) akan lebih tinggi dari pada mendarat di KLIA (Terminal 1). Hal ini dikarenakan pesawat LCC (Low Cost Carrier) semacam Air Asia dan Scoot Air akan mendarat di KLIA2.

Tentu kamu akan menuju ke pusat kota Kuala Lumpur setelah mendarat. Ada tiga pilihan moda transportasi yang bisa digunakan, yaitu taxi, KLIA Express train dan airport bus. Nah kembali lagi ke peluang, maka peluang terbanyak yang akan dipakai para traveler adalah menggunakan bus karena tarif paling murah tentu menggunakan moda transportasi ini. Berikut perbandingannya:

KLIA2 ke KL Sentral.

1. Naik taxi = Rp. 308.000

2. Naik KLIA Express train = Rp. 193.000

3. Naik airport bus = Rp. 42.000 (tarif termurah)

Oleh karena itu, aku perlu menuliskan kisah perjalananku menggunakan airport bus dari KLIA2 menuju ke tengah kota Kuala Lumpur yang pada umumnya penumpang akan diturunkan di KL Sentral.

Jauh sebelumnya, aku juga pernah menulis tentang perjalanan menggunakan Airport Coach dari KLIA ke KL Sentral. Kamu bisa melihatnya di link berikut:

Bus dari KLIA ke KL Sentral, Malaysia

Nah sekarang saatnya kutulis perjalanan dari KLIA2 ke KL Sentral. Berikut ceritanya:

Tepat pukul 09:15, aku melewati konter imigrasi KLIA2. Penerbangan pagi hari yang tak memberikan kesempatan walau hanya sekedar menyantap omlet seperti hari biasaku di rumah. Hal ini membuat perut langsung keroncongan begitu tiba di KLIA2.

Sejurus kemudian aku hinggap di HomeTown Hainan Coffee di lantai 2 Gateway @KLIA2 mall. Menyantap 2 butir telur setengah matang seharga Rp. 21.000 sedikit menenangkan perut yang terus memberontak.

Nama kerennya Omega Half Boiled Eggs….Hahaha.

Tiga pelayan resto pun memperhatikan lekat-lekat ketika aku mengeluarkan segepok lembaran 1 Ringgit Malaysia. Ya, aku meminta 50 lembar MYR 1 ke money changer DolarAsia Jalan Melawai, Jakarta Selatan saat menukar uang. Hahaha….Sumpah, aku ndeso banget ya lima tahun lalu.

Menuju lantai 1 yang merupakan letak dari Transportation Hub KLIA2. Kemudian aku bergegas menuju konter penjualan tiket Aerobus.

Pakai lift itu ya !
Itu adalah konter penjualan tiket taxi dan bus di KLIA2.

Tarif Aerobus kala itu (tahun 2014) adalah sebesar Rp. 17.5000. Tetapi terakhir aku ke KLIA 2 lagi pada April 2019 tarif bus ini sudah di angka Rp. 35.000.

Tarif sudah naik 2 kali lipat setelah 5 tahun.

Aku menunggu Aerobus Express di platform A05 pada 15 menit sebelum waktu keberangkatan. Keunggulan bus ini adalah ketepatan waktunya. Selain Aerobus Express, perusahaan bus lain yang beroperasi untuk rute ini adalah Aerosky Ventures atau lebih dikenal dengan nama Skybus.

Aerobus yang datang di platform A05.

Hanya perlu menunjukkan tiket yang sudah kubeli kemudian petugas merobek bagian driver copy dari tiket itu. Setiap naik bus di Malaysia, entah kenapa aku sangat suka mengambil bangku paling belakang. Duduk di belakang mungkin lebih leluasa untuk mengamati sekitar.

Memasuki aerobus….Paling belakang.

Aerobus akan berjalan menuju KL Sentral melalui MEX (Maju Expressway) Toll Road. Perjalanan selama 50 menit kuhabiskan dengan melihat suasana jalanan negara bagian Selangor.

Mendekati akhir perjalanan, perlahan bus merangsek ke jalan Stesen Sentral untuk merapat ke KL Sentral.

Kamu tahu kan KL Sentral?. Kepanjangannya adalah Kuala Lumpur Sentral yang merupakan stasiun kereta api utama di Kuala Lumpur dan merupakan stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara.  Terletak di daerah Brickfields dan terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran dan kondominium.

Shelter bus dengan jurusan KL Sentral ke KLIA/KLIA2 ini terletak di Basement KL Sentral. Ini dia shelternya:

Shelter Aerobus/Skybus di KL Sentral.
Aerobus dan Skybus yang sedang mengambil penumpang di KL Sentral.

Dari Basement, aku hanya perlu naik melalui escalator ke lantai 1 untuk mencapai gate menuju ke platform kereta komuter dan LRT.

Aku sudah berada di platform dan bersiap menuju Batu Caves.

Untuk beberapa moda transportasi dari KLIA2 ke KL Sentral, kamu bisa mendapatkan tiketnya di 12Go Asia atau di link: https://12go.asia/?z=3283832

Anyer, Arrival Hall KLIA 2 dan Imigrasi Malaysia

Hi Gaesss…..Ini adalah kisah klasik tempoe doele ketika aku memulai karir sebagai seorang backpacker.

Bermula dari artikel ini, selanjutnya aku akan menuangkan petualangan lawasku dalam membedah negeri jiran….Yesss, Malaysia.

Malaysia adalah negara terdekat yang sering dijadikan tempat latihan termudah dan terhemat untuk mengawali karir sebagai backpacker. Selain menawarkan biaya hidup yang murah dan dekat dengan tanah air, Malaysia juga terkenal ramah dengan sistem transportasinya. Jadi, Malaysia bisa melatihmu menjadi backpacker level beginner.

Malaysia sendiri menjadi negara ketiga yang kukunjungi setelah Singapura dan Thailand pada masa-masa awal perjalananku menjadi seorang backpacker.

—-****—-

Outing kantor di Anyer baru beranjak di malam pertama. Kegelisahanku semakin menjadi-jadi ketika acara penghargaan karyawan tak kunjung selesai. Pukul 23:00 hampir terlewat, sebagai karyawan baru, aku terlihat tak tahu diri ketika memberanikan diri untuk meminta izin pulang ke Jakarta lebih awal…..Guwe kan belum packing, gaes.

Izin pun akhirnya disetujui dengan alur yang tak mudah. Tak berfikir panjang, aku bergegas menginjak gas Avanzaku dalam-dalam. Aku membelah panjangnya tol Jakarta-Serang di dini hari yang mulai berembun.

—-****—-

Memarkirkan “Si Silver” dengan tak sempurna di garasi, aku bergegas dan melompat ke kamar untuk mengepak semua perbekalanku ke dalam backpack berukuran 25 liter.

Waktu yang tak cukup lagi untuk berburu DAMRI Kampung Rambutan-SHIA, membuatku kembali menginjak gas “Si Silver” menuju Soekarno-Hatta International Airport (SHIA). Hal ini membuatku harus mengeluarkan Rp. 255.000 untuk membayar parkir inap di bandara itu selama 4 hari 3 malam.

—-****—-

Tiket pp Jakarta-Kuala Lumpur seharga Rp. 606.000 yang kudapat melalui program promo Air Asia pada 8 bulan sebelum keberangkatan akhirnya terselamatkan dari ancaman keterlambatan yang menghantuiku semenjak menit pertama kepulangan dari Anyer.

Aku tak sabar untuk segera terbang menuju Tanah Melayu itu begitu maskapai merah terlihat landing di runway Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport..

Terminal 3 yang lama (saat terminal 3 Ultimate belum dibangun).

Tak menunggu lama, aku dan penumpang lainnya dijemput oleh Air Asia airport coach menuju lokasi pesawat parkir.

QZ 202 yang akan mengudara pada pukul 06:25 dengan waktu tempuh 1 jam 50 menit.

Kala itu merupakan penerbangan kali keduaku bersama Air Asia (tahun 2014). Sedangkan penerbangan pertamaku bersama Air Asia mengambil rute reguler Jakarta-Bangkok pada 2013.

—-****—-

Yuhuuuu….Pendaratan perdana di negeri Mahathir Muhammad.

Pendaratanku di runway KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2) disambut dengan suara pramugari berbahasa Melayu. Pertama kalinya aku mendengar Bahasa Melayu secara langsung. Terkesima dan takjub.

Hati berdetak kencang karena ini pertama kalinya aku ber-solo traveling. “Aduh, bagaimana ini?….Gile, guwe sendirian di negara orang….Ntar kalau ada apa-apa gimana ya?”. Gumamku ketika menginjakkan kaki di aerobridge.

KLIA2 yang beroperasi pada tahun 2014 menggantikan fungsi LCCT (Low Cost Carrier Terminal).
Kondisi bangunan yang masih baru.

Belajar menjadi backpacker pemula menjadikanku membawa kesana kemari botol minuman untuk selalu diisi ulang….Jadoel banget diriku waktu itu.

Water station yang membuatku girang bukan main….Ndesoooo.
Toilet wanita, nursing room dan disabled toilet di arrival hall.
Informasi Departure Flight di KLIA2 pun tersedia di koridor awal arrival hall.

Sebetulnya aku merasa belum siap untuk menuju konter imigrasi karena ketakutan yang luar biasa. Selalu terngiang cerita tentang ketatnya para petugas imigrasi Malaysia bagi para pendatang perdana. Dan kabar buruknya….Ini pertama kalinya aku masuk Malaysia.

Yuk lah….Masuk konter imigrasi….Apa yang terjadi ya terjadilah.

Berada di belakang garis kuning antrian imigrasi membuat jantungku berdetak kencang…Karena sesaat lagi aku akan memasuki satu slot di konter imigrasi. Penampilan yang tak mendukung….Jaket yang sudah sedikit memudar warnanya karena sering kupakai berkeliling Jakarta sebagai salesman, sandal gunung jepit KW yang tak begitu bonafit dan tas punggung kecil yang tak meyakinkan.

Staff imigrasi: “Kemana hendak pergi?”, mukanya ngeri beud.

Aku: “Hanya jalan-jalan Pak di Kuala Lumpur”.

Staff Imigrasi: “Di manakah destinasi?

Aku:”Batu Caves, Petronas Twin Tower, Bukit Bintang dan Genting, Pak”.

Staff Imigrasi: “Cobe adakah anda menunjuk tiket balik?”.

Aku: Menurunkan backpack, membuka dan mencarinya, “Ini pak tiket pulang saya pakai Air Asia tanggal 18 Nov 2014 jam 09:50”.

Staff Imigrasi: “Di manakah tempahan hotel?”.

Aku: “Saya belum pesan hotel pak”, mulai tegang.

Staff Imigrasi: “Bagaimana tak ade tempahan hotel, di mana anda mahu tinggal?”, mukanya judes banget.

Aku: “Saya mendapatkan referensi hotel ini pak (sambil menunjukkan sebuah kartu nama hotel yang kudapat dari bosku yang sering rekreasi ke Kuala Lumpur)”. Tapi sebetulnya aku tak akan menginap di hotel itu.

Staff Imigrasi: “Masa depan mesti ada tempahan hotel, kali ini saya dibenarkan masuk”. Masih terlihat senewen sambil menuliskan tanggal kepulanganku di bawah stempel free visa di pasporku. Pertanda bahwa dia mencurigai aku.

Tetapi pada kunjungan-kunjunganku berikutnya, setiap petugas imigrasi yang kulewati tidak pernah menuliskan tanggal kepulanganku di passport. Aku sudah bisa melenggang bebas di seantero Malaysia hingga kini.

Lihat penampakanku, sungguh mencurigakan sebagai seorang wisatawan.

Ikuti terus kisahku tentang Malaysia di artikel-artikel berikutnya.

“The Dashing” Bank of China Tower and “The Face Savior” Starbucks

“Bitter coffee suddenly became sweet….You was beautiful”.

Setelah 1,5 jam menikmati The Hong Kong Observation Wheel dan AIA Vitality Park di sekitar Central Ferry Pier, akhirnya Aku mulai menyeberangi Connaught Road Central menuju Bank of China Tower (BOC Tower).

Connaught Road Central which fluently.

It wasn’t difficult to find that famous tower. Because from a distance, the building with a distinctive triangle frame was visible. The fourth tallest building in Hong Kong.

Let’s go to entering BOC Tower.

Whattt….All men/women who entering and out of the building looked handsome, beautiful, fashionable in a tie and metrosexual style….I momentarily stopped hesitating and watched its main door from a distance. OMG….No one looked like backpacker or tourist who entering it.

Doubt…. Embarrassed….Nervous.

Going in or not?????

I would enter it…Step forward.

Ups, I canceled my steps…. stopped and turning back.

I must brave to entering it….Started to stepping again

Waited….Stop stepping….Bowed to thinking …. Scratching my head #lookeddramatic.

You are timid, Donny….Come from far away, when arrive in destination then you run away….You must embarrassed with your jargon, Donny“, the heart whispered to the brain.

Embarrassed, bro….Crumpled t-shirt, dirty trousers don’t be change for 4 days, cheap shoes from sidewalk store, and my bag shoulder strap is torn….I think, it will be many tourists there….Apparently it isn’t“, my brain defended.

Yes, Donny…Can we directly go to Victoria Park? … Many Indonesians gather there” the heart confirmed.

Well, right, what did I say….Come on go to Victoria Park while it isn’t late….” the brain began to ally with heart.

Finally,

“I am salesmen, it should not have shame in my face”, my mouth began to kick out my heart and brain.

executive man in tie and some blond haired expats strangely saw me when they entered building’s door. I smile as sweet as possible, hoping someone was interested in my exotic black skin….Hahaha.

Test….Test….Practiced smile before entering. The door is on my right.

—-****—-

A few steps entering building, I stopped and stared at whole room…. Confidence…I looked for front desk location.

Yes….That, in the middle of room.

Me: “Can me ask?“….Oh, wrong question “Excuse me Miss, Can I get information about observation deck on 43th floor?

She: Ouch, smiling sweetly, “Hi sir, our observation deck was closed

Me: “Since when, Ms?“, My bad english, the important was she understood.

She : “It closed since May 2015, Sir”.

Me : “Oh Okay, Thanks you Ms”.

She : “You are welcome Sir. Happy journey in Hong Kong. Where are you come from?“.

Me : “I’m from Indonesia. Again, thank you for your kindness”……”Can me know where do you stay in Hong Kong?, I want to meet your parent”. #fictionquestion

Failed in got destination but feeling contented in overcoming my own fears, I turned to leave the building.

Suddenly….

Braaaarrrrrrrrrrr……..

Rain….Whatttt….What must I did?.

All office employee went back into lobby. Imagine!, one backpacker style in the middle of a lot of tie and suits….God.

—-****—-

Okay….Okay….I looked around again.

Ahhhhaaaaa….That, Starbucks at left of room. With my confidence, I stepped to Starbucks. #rememberwallet

You aren’t the only man who has money?” I arrogantly muttered…..Hahaha, I was sorry (tonight, I didn’t eat because of starbucks).

There was a voice behind me….

Beautiful blonde: “Hello, do you queueing?“.

Me : “Oh No, I just seeing the menu. You can queue first”, God…..I too long thought to find the cheapest coffee prices in front of cashier.

Beautiful blonde : “Oh thank you, handsome”.

Me : “You are welcome, sweety”.

Finally ordered a long black coffee for USD 2.

Very Bitter….Just swallow it…… because of lots of style.

Just sat in a row of empty chairs so that other people weren’t uncomfortable with my existence.

Chairs was getting full because other people also drank coffee and waiting for the rain to stop. And my luck came.

Bitter coffee suddenly became sweet….looked like sprinkled with 5 spoons of sugar. Because of she sat in front of me….

Slow down drinking, Donny“, Satan began to whisper.

One sipping…..glancing……sipping again….then glancing again.

Instead of just being stunned, It was better if I asked.

Me : “Hi, Ms….Do you know WiFi password here?”

She : “I’m sorry, I’m using my own Wifi”, while smiling.

Me : “The hard hit” to me as free WiFi hunter….Hahaha.”Oh Ok, Thank you Ms”.

No longer glancing and no longer asking. Pretending to enjoy coffee which is actually very bitter…. #whilewhistling.

My silly adventure in the BOC Tower ended with quite a number of hooks and uppercuts….Sad.

Rain had stopped….It was time to headed for Victoria Park. I exited the building and lunging at soft drizzle which exposed my face.

Come on, using Ding Ding Tram!

Behind of Air Asia QZ 206 Flight from Jakarta to Kuala Lumpur

Just after returning from expedition to Garut-Tasikmalaya-Sumedang, my fatigue after a week traveling in that three districts didn’t make me tired. Didn’t take a break, I prefer to complete my mission for complete South Asia exploration by visiting the remaining three countries.…Bangladesh, Sri Lanka and Maldives.

Air Asia ticket which I bought for USD 25,8 since April 7, 2018 was able to keep my mission and my wallet to continue to travel the world. Yes, I had to caught Malindo Air on Kuala Lumpur-Dhaka route in KLIA.

During waiting period of my departure, many questions arise from work colleagues or other friends outside of work.

“Yeeee, why are you traveling to Bangladesh?. It’s not elite”

“Donny, what do you want to see in Bangladesh?”

“You will go home and sick, Donny”

“Wasting time….Better you go to Ancol (a beach in Jakarta) than go to Bangladesh”.

“Donny, Why does have to go to Bangladesh?”

I answered: “Yes, up to me … it’s my money … It’s my steps“.

Ups, I didn’t answer like that….That’s impolite.

Hahaha …. “Yes, guys, my money is only enough to travel there“….Hahaha….That’s my answer to them.

Other people don’t know about my mind about traveling….more crazy, more better….more weird, more amazing…Hahaha.

—-****—-

As usual…Using DAMRI bus at Kampung Rambutan Terminal. Besides being cheap, it is also close from my home. I prepared USD 2,9 to pay the fare with departure time on 15:00 hours. 1 hour and 15 minutes trip drove me in Terminal 2F, Soekarno Hatta International Airport.

Through gate 5, I started entering first X-ray screening. Not so smooth, my backpack which became my only friend was seen flipped by AVSEC (Aviation Security) officer, smeared with wet tissue and then watched closely. No need to worry…. the important thing is no drugs in it….Hahaha. Even if denied entry, it’s calm…. this is still in my city. Just go back to home with DAMRI again….If I denied to boarding.

Hi Ms, can me get window seat, please!“, My seduction to check-in staff at Air Asia counter. God, She is very pretty and kind, always smile …Hahaha, It’s be her duty to smile to everyone. “Hello, It’s your boarding pass“, She said….I got seat 2D, yes I failed….Hahaha.

Let’s stamped a passport! …. Even though it’s an e-passport, but my habit of stamping a passport make me didn’t care about existace of autogate counter.

Immigration Officer: “Where do you go?

Me : Just mention in detail one by one of my destination, so he wasn’t be suspicious, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives, sir. Transit in Mumbai and Singapore“. What kind of trip trip is it? … crazy.

Immigration Officer : “Backpacker?”

Me                           : “Yes sir”

Immigration Officer : He saw my face, checking my new passport and old one. Then….He stamped it, “be careful, sir“.

Me                            : “thank you, sir….surely I will be careful”.

Immigration Officer : “You are great“.

Yuhuuu…..I’m great like he said

Then I prayed at end of corridor before entering gate. After that, I entered second X-ray screening in front gate D5….Yess, very smooth.

While I was sitting reading near charging station, came a couple of Korean. They tried very hard to use it too.

Me      :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

He       : “Oh yea….Why put it here if broken” ostensibly kicking charging station while smiling.

Me      : “Do you want go to South Korea?”.

He        : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Me     :  “Oh Nice”.

He       : “What are you doing here? “.

Me     :  “My profession, your mean?”.

He       :  “yeaaa”

Me     :  “Sales”.

He       :  “Good money?”

Me      :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

He       :  “yea…yea…yea”, nodding while smiling at me.

Looked like his girlfriend was a travel vlogger. Always speak with her confidence….Great. I thought I could not be like that? It’s better to write than to talk like her.

QZ 206 finally leaned to gate. Yup ….my adventure started immediately. Thirsty made me out from gate to buy mineral water. And a little warning from gate officer to immediately back to gate. Ok, sir, instead of buying it on the plane, it’s expensive.

Airbus A320-200 with a capacity about 186 passengers.

Exactly on 19:17 hours, I started boarding.

Behind korean-american girl.

Turbulence night flights on end of December. Seen middle-aged man next to me was so tense and held tight to the armrest chair throughout flight while me and a young woman who flanked him only wryly smiled while hiding misgivings.

Cabin.

Because my latest knowledge about Ipoh and Penang was so minimal, I decided to explore Travel360 inflight magazine. Hoping to find valuable information about Ipoh and Penang tourism. And …. thanks …. I really got it.

Ipoh in Travel360 inflight magazine.
Basic information about Penang.

QZ 206 was preparing to landing. Could not sleep during the trip because focus in reading inflight magazine to find information. This time, my 5 days transit adventure in Malaysia was foolish. Traveling without enough information.

Getting ready to landing.
What is the baggage for? It maybe a flight safety equipment.

Once arrived at KLIA2, a thoughts which immediately occurred to me were looking for a free water station, dinner, prayer, bought bus ticket to Penang and then sleeping.

You have to go to Transportation Hub on 1st floor to find cheap food. Oh yeah….Bus ticket sales counter is also there.

Come on…Got ready to go to Penang tomorrow.

For several transportation mode from Jakarta to Kuala Lumpur, you can get the ticket in 12Go Asia or in link: https://12go.asia/?z=

Exploring Penang Sentral

The increasing of direct flights from Jakarta to Penang, making traveler prefer landed at Penang International Airport rather than do travel overland for about 6-8 hours from Malaysia’s capital.

And if you are patient to do overland trip, your memory will be filled with interesting experiences and accompanied by breathtaking views throughout Selangor State and Perak State.

Then ….For you who travel overland using bus then majority of buses will stop at Penang Sentral which is tourist gateway of Penang Island.

Therefore….So you will not confuse and can get detail preview of Penang Central, so I present this article to you.

Yessss … that’s Penang Sentral appearance.

PENANG SENTRAL …. Built in 2018 as main transportation hub owned by Penang State. Penang Sentral strategically replaces Butterworth Bus Terminal role with an exceptional integration system. As you can imagine, this large building integrates bus terminal, train station and ferry port in a location. Third integrated building which I admire in Malaysia after KL Sentral and Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Butterworth Bus Terminal before Penang Sentral is completed.
Source: Travel-Senang-Malaysia.com
Penang Island is seen from Penang Central.

—–****—–

This is my story of exploring Penang Central.…

At 13:54 hours, I arrived at Penang Sentral … yes, of course, I was dropped off at Drop Bay in 1st floor.

And for presenting this article, I delayed towards ferry terminal which can anchor me in George Town, capital of Penang State.

For 1 hour and 20 minutes, I would explore Penang Sentral.

FLOOR 1

Starting from this hall:

You will be dropped off at Drop Bay Area when you arrive at Penang Sentral.

Generally, 1st floor is used to drop and take passengers.

This is intercity/express bus platform area when I left Penang Sentral.

FLOOR 2

Come on, we’re going up to second floor. What are there?

After you go up escalator, you will see 2nd floor view.

So….What are you looking for?

  1. Bus Ticketing Counter.

Bus ticket sales counter is in front of me after I go up with escalator. I immediately buy a bus ticket to leave Penang with schedule about two days after my arrival in Penang. Existence of KiosK Self Ticketing which stuck to building pillar made me stop before reach sales counter. I am better to finding cheapest bus ticket via that machine, because many buses with varying fares provide routes to Ipoh.

Finally, I held Perak Transit bus ticket sheet after putting USD 5,2 in KiosK Self Ticketing machine….Bus ticket was in hand, my heart was calm.

That’s Penang Sentral Departure Board….Self Ticketing Kiosk is on that pillar. Do you see?

2. Information Centre

The first standard when arriving at a foreign place is visiting information centre to get as much information as possible before exploring it more deeply. So did I, asking about Penang tourism, asking for brochures, finding ways to leave the city in the best way and many other things which I asked to information centre officer.

Very easy to find it….It is in front of bus ticketing counter.

3. Ferry Terminal.

Walking on back side of Bus Ticketing Counter, in several meters you will find a linkway to Ferry Terminal. Located to left side of your steps, you will see clearly a direction sign whinch leading you to Ferry Terminal.

Linkway to Ferry Terminal.

Walk straight for about dozens of steps you will find a Customer Service Center which sells ferry tickets to George Town. The name of ferry terminal is Pangkalan Sultan Abdul Halim.

It’s cheap….ticket price is only USD 0,3 for a round trip ticket

4. Shopping Counter.

Actually more Shopping Counter are on 3rd floor. I didn’t have time to visit it because it was already late and if I didn’t leave Penang Sentral soon, my exploration in Penang Island would be disrupted.

Shopping counter which I showed was only on 2nd floor.

5. Eatery

Food stalls are located near linkway to Ferry Terminal. These are certainly guaranteed halal and relatively cheap in price.

Iqbal’s Restaurant is my place to eat when I enter and leave Penang
Try the squid….Delicious

6. Butterworth Station.

Another integrated transportation mode in Penang Sentral is train. Train station is called Butterworth Station. The station building is located separately from Penang Sentral main building.

To find this station. Walking straight pass Bus Ticketing Counter on 2nd floor, then you will find an lift at end of floor. Then go down to 1st floor via lift.

Lift is at end of 2nd
floor.

Not too far after exiting lift, on 1st floor then you will find a corridor with KTM (Keretapi Tanah Melayu) sign as a guide to Butterworth Station.

Front corridor appearance.

After a few tens of meters down the hall you will find a white building which is none other than Butterworth Station.

I rushed to hunt for an ETS (Electric Train Service) ticket but it was sold out.

OK…That is my story. I have explained all results of my exploration in Penang Sentral.

So, finally, you want to go to Penang by land or by air?

Garden of Stars atau Avenue of Stars?….Ah Sama Aja, Asal Ada Bruce Lee.

Pagi-pagi sekitar jam 8, aku mulai menuruni lantai Chungking Mansions Building yang menjadi tempat menginapku selama 3 hari di Hong Kong. Hong Kong memang gila, aku tak bisa melihat matahari pagi karena begitu rapatnya jajaran para pencakar langit itu. Jalanan juga penuh dengan warga yang lalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing…..Puadettt bangeeettttt. Ingat dulu Hong Kong kena virus SARS?….Pantes lah, padat dan ga kena matahari. (Yeeee sok tahu lo Don, emang itu penyebabnya….Ngawur ih).

Nathan Road menjadi nama jalan yang paling kukenal karena selalu kulalui setiap pagi, siang dan malam selama di Hong Kong. Pagi itu….ya, Nathan Road lagi….Aku berbelok kekiri menuju Salisbury Road. Sambil melihat di pertokoan pinggir jalan, Aku berharap segera menemukan minimart untuk mencari sarapan murah. Gile emang….Transportasi Hong Kong boleh murah, tapi makan dan hotelnya gelo ratenya.

Pertigaan Nathan Road dan Salisbury Road.

Kemudian tiba tepat dipertigaan Middle Road dan Salisbury Road, aku menemukan 7-Eleven minimart. Yes, pagi itu aku memakan sekerat Ham & Egg Sandwiches dengan harga Rp. 19.000. Cukup dipanaskan di microwave, aku bisa dengan cepat menikmatinya. Hanya saja aneh, si kasir tak mau menerima lembaran 100 dolarku, Katanya itu uang lama….Waduh, ya mana guwe tahu kan nukernya di bilangan Blok M Jakarta. Lega, beberapa lembar 100 Dolar lamaku itu masih laku untuk top up Octopus Card di stasiun MTR.

Berdiri di ujung jalan sambil menikmati sandwichesku yang masih berasap, Kunyahanku diinterupsi dengan kehadiran seorang pengembara Jepang yang sedikit susah berbahasa Inggris dan dengan gadgetnya menunjukkan gambar bangunan berwarna orange dengan jam dinding di atasnya. Oh itu kan Hong Kong Clock Tower, Aku langsung faham….Cerdas kan guwe, siapa dulu donk….Donny!.

Aku: “Do you want go there?”.

Dia: “Yes….Yes…”, Ngangguk-ngangguk dan senyum.

Aku: “Do you have a map?”.

Dia: “What…What…”, Kayaknya ga faham.

Aku: “Wait….Just wait”….Kutaruh santapanku di bangku trotoar, kuturunkan tas dari punggungku, lalu kurogoh selembar peta yang merupakan teman setia perjalananku. Aku tahu itu adalah jam yang terletak di Star Ferry Pier, Mungkin dia mau menyeberang ke Hong Kong Island. Yes, kutemukan titiknya dan kutaruh kompas di atas mapku…..Okay, I know

Aku: “Hi Buddy, you just go through that road…You must across that road towards left side….Just walking straight for about 1 km. You will find it in the left side….Okay”…..Guwe jelasin sambil menunjukkan jari kesana kemari karena dia tak faham English kayaknya

Dia: “Okay…okay, thank you very much”.

Aku: “Arigatou Gozaimasu…..”. sambil membungkukkan badan

Dia: “Oh…Oh, yea “, Dia tersenyum lebar dan ikut membungkukkan badan. Sepertinya dia merasa tersanjung.

Selesai meyantap sandwiches, Aku segera melanjutkan perjalanan ku menyusuri Salisbury Road.….arah yang berlawanan dengan si Jepang tadi. Dalam 5 menit, Aku tiba di pelataran sebuah tunnel yang akan mengarahkanku ke Garden of Stars. Free….tak perlu mengeluarkan uang memasuki destinasi ini. Memasuki Garden of Stars Time Tunnel, Aku disuguhi cerita-cerita perjalanan kota Hong Kong dari zaman dahulu hingga sekarang. Wah, cerita bergambar yang dipajang di sepanjang dinding terowongan itu membuatku terpana akan pesatnya perkembangan Hong Kong….Keren.

Keluar dari terowongan maka tibalah Aku di luasnya Garden of Stars. Wahhhh….itu patung-patung terkenal itu. Patung itu sedang dipindahkan dari tempat asalnya yaitu Avenue of Stars di pinggiran Victoria Harbour karena proyek renovasi.

Sebetulnya geli juga sih, foto-foto bersama patung-patung itu….Hahaha. Jauh-jauh cuma foto sama patung….Wkwkwk.

Nih dia beberapa jepretan di Garden of Stars:

Sculpture Mc Dull….si tokoh babi kartun.
Sculpture sang legenda….Bruce Lee.
Sculpture Anita Mui.
Hong Kong Film Awards Sculpture.

Selain patung, Aku juga menemukan Star Handprint Plaques. Mencoba menyentuh handprint milik Michelle Yeoh….Ya Allah, imut banget sih tangannya….Keciiiilll mungilll bangett.

Lupa itu handprint milik siapa?.

Di ujung taman baru terlihat patung-patung yang menggambarkan kegiatan perfilman di Hong Kong.

Lighting crew sculpture.
Sculpture of sound assistant.
Donny as cameraman.

Garden of Stars sendiri menyuguhkan pemandangan Victoria Harbour yang sangat mempesona. Tak mau meninggalkan pesona itu, kuputuskan untuk menikmati secangkir kopi dan duduk menghadap Victoria Harbour untuk menikmati indahnya Hong Kong di pagi itu.

Victoria Harbour view….Indah banget.

Keren kan perjalananku……..

Bus from Singapore to Johor Bahru

Squirrel which cleverly jumped finally also can fall too“…. Oh, Donny is that squirrel.

Yesss….that night, I was kicked out of Changi International Airport terminal 2…Niceeee….My passport was marked by Aviation Securitty….God.

Since 2014, playing cat and mouse role with Singapore airport police. Now, the cat was caught when sleeping behind a waiting chair in terminal 2 of Changi International Airport … Embarrassing.

4 hours before incident.…

The “gray with orange star” airline with flight number 3K206 landed me in Terminal 1-Changi International Airport on 12:30 hours.

Because Changi Airport MRT station is in Terminal 2 and will operate on 5:30am, I decided to move to Terminal 2.

I finally prayed and then rest in prayer room until 02:00am. But coldness of air conditioner forced me to move to a row of waiting seat in front of passenger lounge. My assumption that airport police had finished patrol in this area was wrong.

Amid my dream, airport security who guarded by two young armed policeman and soldier woke me up. Ahhhh….I was understood….I finally caught after 4 years always avoid them.

Airport security: “Helo Sir, Can me see your passport and ticket?

Me: (while handing in a passport)  “Good night Sir, I’m sorry before. I am waiting for first train to downtown. I just arrived 3 hours ago.

Airport security: “Sorry, How long do you will stay in Singapore?”.

Me: “3 Days 2 Night, Sir”.

Airport security: “This hall is only for transit passengers. You can’t wait the train here. Let me take you to immigration counter”….(Click….Oh, my passport was captured with his camera. It was sent to their boss via whatsapp…. Hmmh, I’ve been tagged at Changi …. If I was caught once again, it will be a serious problem….hahaha.).

Because I came into immigration counter with armed soldier, Indian descent immigration officer became bitchy and angry to me when she stamped my passport ….Oh God, more angry then her face became more sexy like “Kajol” (beautiful Indian artist)….Hihihi.

2 hours can’t sleep….Yes, floor after immigration counter isn’t carpeted. How could I sleep while sitting on hard bench like that?.

In midst of sleepiness (it was because on noon, I worked full time in Bandung. And in afternoon, I directly went to Soekarno Hatta International Airport….cool yes, my home in Jakarta, working in Bandung on noon, and in night I was in Singapore….Hahaha), I decided to eat halal-certified noodles in this restaurant:

Located near exit gate after immigration counter of terminal 2 .
Cheap …. Only USD 3,5.

Waow….Please focus to the theme, Donny!

—-****—-

Let’s focus on the theme.…

That time, The final destination of my 7th visit to Singapore was Johor Bahru, Malaysia. Why did I go from “Lion Country”?…yes of course, the cost will be cheaper.

After eating noodles in the morning, I hurried to MRT platform in Changi Station. By buying a ticket for USD 1,9 on an automatic machine, I headed for Jurong East Station with 70 minutes travel time.

Why must be Jurong East Station?….Because this is a place where CW3/CW4 bus shelter which will go to Johor Bahru via Tuas Checkpoint which is the land border of Singapore and Malaysia.

I forced myself to hold pee because of toilet smell behind Jurong East Station crowd. Understandably, this station is integrated with bus terminal to various regions in Singapore and even out of Singapore.

After buying a bus ticket at counter, I immediately entered a queue and waited for bus to arrive. And finally, I got a CW3 bus which came 5 minutes later.

CW3 bus ticket costs USD 1,9.
Orderly waiting in line according to the path.

I chose a back seat so I could freely take photos during trip.

Bus’ air conditioner was great.

Bus continued to move towards Tuas Checkpoint via AYE Toll Road. Singapore’s streets smoothness made bus arrived at Tuas Checkpoint in just 30 minutes.

I deliberately chose queue line which guarded by Malay descent female officers for easy immigration checks (because I am Malay descent too). As a result, the immigration process at the border became very smooth.

Queueing at Tuas Checkpoint.

After passing the immigration counter, I immediately headed to the bus waiting area that will take me to the Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang CIQ (Customs Immigration Quarantine) which is a Malaysian immigration building.

I didn’t need to find bus which I boarded before because as long as a ticket was still saved, I could continue my journey with another CW bus with similar destination.

Sea view along Second Link Expressway which connects Singapore and Johor Bahru, Malaysia.

The next journey begins. Second Link Expressway condition from Johor Bahru to Tuas Checkpoint was severely jammed during work hours at that time. On other side, the road from Tuas Checkpoint to CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang was fluent.

very fluent in my side vs jammed in other side.

And in 15 minutes, I arrived at CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang. There weren’t serious checking during immigration process and finally I was able to get through it quickly.

After stamping my passport, it means that the continued journey using CW3 bus has finished.

Immigration stamp when entering Malaysia via CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang Immigration offfice and immigration stamp when exit from Malaysia via Sultan Iskandar Immigration Building.

I tried to find a bus with a route from CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang to Legoland. Luckily, there were a lot of Indian descent bus driver asking to me about my destination. After talk with them, I was shown CW7 bus which passes through Legoland on its official route.

Playing lego in Legoland ????….Like me.

I finally arrived in Legoland.

Easy to get a bus ticket from Singapore to Johor Bahru or vice versa. Just try to ordering via travel e-commerce in 12Go or https://12go.asia/?z=3283832