Dibalik Hematnya Bagus Bay Homestay

Aku melompat ke dalam melalui jendela setelah Mbak Resepsionis tak mampu membuka pintu kamar. Berhasil masuk dan “klik”, terbukalah pintu dengan sekali putaran. 

Memilih penginapan adalah masalah selera. Tapi buatku dormitory tetaplah nomor satu. Menjaga kantong demi langgengnya cita-cita….traveling…. #bokisbanget

Setelah sedormitory di Medan, Aku bertemu Eloise kembali disini. Kutunjukkan tarianku bersama Si Gale-Gale kepadanya. Cekikikan melihat polahku menari. Bercerita banyak tentang tripnya menuju Toba, Dia merasa kurang nyaman melihat banyak orang merokok di bus sementara terdapat anak-anak.

Kelelahan membuatku tertidur hingga jam 8 malam. Beruntung ada air hangat di kamar mandi bersama. Menuju lobby yang sekaligus resto, Aku menikmati malam dengan melihat live accouctic ditemani sebotol coca cola.

Kulihat Eloise dipojok dan bicara dengan staff sambil menunjuk peta. Kupikir Dia sedang mempersiapkan tripnya besok. Terlihat juga pria bule berambut panjang yang terus menambah botol bir nya. Tak kusangka Dia akan menjadi room mateku di sebuah dormitory di Bukittinggi 2 hari kemudian. Di Bukittinggi, Aku mengenalnya akrab sebagai Noah, insinyur pertambangan asal California.

Mengetahui keberadaanku, Eloise mendekat dan duduk didepanku, menanyakan rencanaku esok hari dan bagaimana mengeksekusinya. Kujelaskan sedetail mungkin dan sepertinya Dia tertarik dan diakhir pembicaraan Dia memutuskan untuk mengajak naik motor berboncengan membelah Samosir.

Seorang Vegan dan tidak mengkomsumsi alkohol. Wajar Dia tidur lebih cepat malam itu.

Saran staff homestay mengantarkanku menuju ke sebuah rumah di seberang Homestay untuk menyewa motor seharga 60 ribu buat perjalananku esok hari. Disuguhi teh hangat dan berbincang dengan Si Ibu setelah ketahuan rumahku ternyata dekat dengan rumah anaknya yang tinggal di Jakarta.

Morning Samosir……                                                                                               

Semua penginap belum bangun, Aku sudah berkeliling melihat kesibukan masyarakat. Siswa yang bercanda di perjalanan, para orang tua yang berjogging, beberapa warga memberi makan hewan peliharaan dan para anak muda yang membersihkan bar sisa pesta semalam .

Kutemukan jalanan tertinggi di Tuk Tuk untuk melihat sunrise dengan leluasa. Tepian danau yang sudah menjadi area perhotelan mengharuskanku menikmati sunrise dengan caraku sendiri.

Aku juga sempatkan berkeliling ke fasilitas umum homestay. Mengitari lapangan volley dan duduk dibangku taman.

Mengunyah onde-onde kering yang masih ada saja dari kemarin menjadikan sarapan gratis pagi itu.

Tepat jam 7, Aku mengambil motor sewa. Motor baru yang belum berplat nomor membuatku bersemangat tapi sedikit khawatir akan Polisi. Pemilik motor meyakinkan “kalau ditangkap Polisi bilang saja milik Homestay, Polisi akan tahu kalau Abang turis apalagi bawa bule”….Wokelah lanjut.

Yuk kita berangkat eksplor Samosir.

Wisata Dekat Pusat Kota Cilacap, Indonesia

Mengunjungi Cilacap gratisan tentu sesuatu yang sangat menyenangkan buat siapa saja, apalagi buat orang yang memiliki gen traveler.

Kejadian ini saya alama ketika ada business trip 28-29 April  2018. Kunjungan 3D2N ke kota di ujung selatan pulau Jawa ini mengantarkanku ke beberapa objek wisata di sekitar pusat kota Cilacap.

Berikut beberapa tempat yang bias kamu kunjungi di Cilacap:

1. Saung Madu Al Azhar

Saung madu Cilacap

Madu klanceng yang dibudidayakan di saung ini adalah program dari Lembaga Amil Zákat Nasional (LAZ) Al Azhar Cilacap yang bertujuan untuk membangun ekonomi masyarakat sekitar. Oleh karena itu selain memiliki area tersendiri untuk budidaya ini, pengelola juga menitipkan 2 kotak madu ke setiap warga di kampung ini.

Terletak di bagian utara pusat kota hanya butuh waktu 20 menit menuju ke tempat ini. Merasakan madu langsung dari sarangnya dan memakan buah markisa dari tanaman di sekitar area budidaya menjadi sesuatu yang menyegarkan sebagai pembuka dari trip saya di Cilacap.

2. Senja di Pelabuhan Sleko

Pelabuhan Sleko adalah pelabuhan penyeberangan di kota Cilacap. Tentu banyak masyarakat yang ramai menyeberang di pelabuhan ini. Termasuk menyeberang ke kampung wisata terkenal di barat Cilacap yaitu Kampung Laut.

Pelabuhan Sleko

Datang pada sore hari setelah seharian bekerja menjadi opsi yang baik untuk duduk menenangkan diri sembari menikmati indahnya sunset dari kejauhan.

3. Pantai Teluk Penyu

Jangan tinggalkan malam begitu saja….setelah sang surya tenggelam segeralah menuju ke tenggara yaitu ke pantai Teluk Penyu untuk sekedar menikmati angin malam dan seafood dinner di sekitarnya.

Pantai Teluk Penyu

Makan mendoan atau seafood tidak terlalu mahal di sekitar tempat ini. Saya juga sempat melihat acara lelang ikan yang baru di bongkar dari perahu nelayan yang mendarat. Dengan bahasa ngapak-ngapaknya membuat lelang ini  terkesan lucu dan menghibur. Memang menurut masayarakat setempat, Cilacap memiliki bahasa paling ngapak diantara daerah lain yang bahasanya ngapak juga.

Saya berkunjung 2 kali ke pantai ini. Saat malam saya bisa secara masuk gratis dan saat siang perlu membayar Rp. 5.000 di gerbang depan menuju pantai.

4. Alun-Alun Cilacap

Sepulang menikmati angin malam, supaya tidak masuk angin, saya mencari penjual wedang ronde di Alun-Alun Cilacap untuk menghangatkan badan.

Alun Alun Cilacap

Alun-Alun saat malam hari memiliki cahaya lampu yang sangat indah dipandang mata. Beberapa pelajar SMP/SMA bahkan mengadakan latihan seni di tempat ini,. Bisa menjadi pertunjukan gratis yang bisa dilihat sambil kongkow dengan minuman hangatmu.

5. Pantai Karang Pandan

Sore hari di hari kedua, setelah acara kantor selesai, bergegaslah saya menuju Pulau Nusakambangan bagian Timur. Inilah destinasi yang saya tunggu-tunggu sejak awal keberangkatan dari Jakarta.

Pantai Karang Pandan

Menuju tempat ini perlu menggunakan jasa perahu motor seharga 30 ribu pulang pergi untuk menyeberang melewati laut. Karena dropping pointnya di utara pulau maka saya perlu berjalan selama 30 menit menuju Pantai Karang Pandan yang berada di sebelah Selatan Pulau.

Pantai berpasir putih nan indah siap memanjakan mata siapa saja yang bersedia berkunjung ke sini.

6. Singapore of Java Cruise.

Bertepatan dengan malam minggu, tentu saya ingin kongkow melihat anak-anak muda Cilacap berhang out ria menikmati malam. Salah satu wahana untuk muda mudi Cilacap memadu kasih adalah dengan berkeliling laut menaiki Kapal Motor Jaya Sakti untuk menikmati keindahan malam Cilacap melalui Singapore of Java Cruise.

Singapore of java Cruise

2 jam cruise memanjakan mata dengan wisata cahaya di  sepanjang pesisir Cilacap membuat saya kagum akan keindahan Cilacap di malam hari.

Oh ya cruise ini bertolak dari Pelabuhan Sleko ya gaes……

7. Pekan Raya Cilacap. 

Sepertinya ini adalah acara partai politik “G” untuk berkampanye di Cilacap. Saya melewatinya ketika pulang dari Singapore of Java Cruise. Penasaran dengan apa yang ada didalam akhirnya saya mampir.

Pekan Raya Cilacap

Didalam terdapat beberapa stand makanan, fashion dan mainan dan sebuah panggung pertunjukan yang  lumayan besar. Saya hanya berkeliling sebentar tanpa membeli apapun di sini.

8. Benteng Pendem.

Hari terakhir di Cilacap rasanya kurang lengkap kalau belum mengunjungi benteng peninggalan Kolonial Belanda ini. Benteng pertahanan tepat di tepi pantai Teluk Penyu membuka pengetahuan saya bahwa Cilacap pada masa lalu berpeluang di serang lewat lautan. Sehingga Kolonial Belanda membangun benteng ini, yang juga merupakan satu paket dengan Benteng Karang Bolong di Pulau Nusakambangan.

Benteng Pendem

Berbekal uang Rp. 5.000, Saya menghabiskan waktu 1 jam untuk menelusuri seluk beluk benteng ini, bahkan saya masuk ke semua ruangan banteng yang memiliki fungsi yang berbeda-beda pada masanya.

9. Pelabuhan Tanjung Intan.

Sepertinya pelabuhan logistik ini tidak terbuka untuk umum karena memang pelabuhan ini sangat sibuk dengan lalu lalang truk-truk berat pengangkut batubara yang di bongkar dari kapal yang berlabuh di pelabuhan ini. Selain batubara juga ada kapal pengangkut pupuk dan bahan produksi gula rafinasi.

Pelabuhan Tanjung Intan

Saya hanya beruntung bisa menembus penjagaan security selama 5 menit sebelum saya akhirnya dilarang dan diminta meninggalkan area pelabuhan ini karena alasan keamanan.

Itulah beberapa alternatif wisata yang berada di dekat pusat kota Cilacap. Berkunjunglah ke Cilacap untuk melihat sisi lain pariwisata yang jarang terexpose untuk umum.

 

Saving Budget for 5,6 Ringgit with GOKL City Bus, Malaysia

As a backpacker, I always try to minimize budget in every trip. For transportation budget, I will more walk or use the cheapest mode of transportation,  if possible I use free public transportation.

Like in Kaohsiung, Taiwan, I used tram for free or ….. in Kuala Lumpur, there are free buses that I can use to got around to city. it’s name is GOKL City Bus.

Well what I want to tell here is GOKL City Bus, guys….

GOKL City Bus has the following routes:

gokl_may2014002_e1

 

Consist of 4 line, there are GO Relax (Red), GO Work (Blue), GO Sightsee (Purple), and GO Shopping (Green)
Source: http://www.spad.gov.my/transport-operators/buses/route-map-gokl-city-bus

GOKL City Bus itself was launched by SPAD (Suruhanjaya Pengangkutan Awam Darat) on August 31, 2012 as a part of Malaysia’s Government Transportation Program to reduced congestion in Kuala Lumpur’s Central Business District (CBD) with user targets were private car users, users of public transport and tourists .

The operating hours of GOKL City Bus are 6 am-11pm for working day and 7 am-11pm for weekends and holidays. For working day, this bus will operate during peak hours (7 am-10am and 4 pm-8pm) every 5 minutes. And for  another day,  it will operate every 10 minutes.

I ever tried GOKL City Bus in 2014 when I visited Kuala Lumpur for first time. And the same traveling I did on March 2018.

Petronas Twin Tower – Pavillion Bukit Bintang

After satisfied to took some photos at twin building, I immediately moved to GOKL City Bus shelter in front of Petronas Twin Tower. Yes ….. this bus would take me to Bukit Bintang – a famous shopping center in Kuala Lumpur-.

GOKL 3

 

Left: GOKL City Bus (GO Shooping / Green Line) was waiting for passengers at Shelter

Top Right: GOKL City Bus interior

Bottom Right: Petrosains shelter, GOKL will wait for passengers near this shelter.

Bus waited about 10 minutes until space was full of passengers. It took 15 minutes until the bus reached Pavillion, Bukit Bintang. I tried to remembered landmarks in Pavilion to decided where I would stopped. I remembered and saw Pavillion parking gate, so I immediately got off  from bus.

Pavillion Bukit Bintang – Pasar Seni

I was only 20 minutes in Pavilion and I wanted to went to Petaling Street at Pasar Seni soon. Actually I would use Monorail combined LRT to Pasar Seni. But when break sitting in front of Pavilion, I saw GOKL bus with a destination board to Pasar Seni. I immediately ran to the bus that was taking some passengers. Exactly, I could got in and bus departed to Pasar Seni.

About 12 minutes, GOKL City Bus arrived at Pasar Seni terminal. Pasar Seni terminal was very different if compared to 2014-the time when I firstly came to Kuala Lumpur-. I saw MRT Pasar Seni station there. As far as in 2014, the MRT station was still under construction.GOKL Pasar Seni

GOKL City Bus at Pasar Seni


Using GOKL City Bus for moved to 2 venues could save budget about 5.6 Ringgit. Actually
It was a little money but it could use for my dinner……hihihi  

 

New Route to Batu Caves, Malaysia

In 2014, I had visited Batu Caves. At that moment I went from KL Sentral to Batu Caves used Seremban Line Commuter Train with ticket fare 2 Ringgit.

March 30th, 2018, I visited Kuala Lumpur and I wanted to visited Batu Caves again. But when I bought ticket at KL Sentral commuter ticket counter, the commuter train to Batu Caves currently unserved passengers from KL Sentral. I knew it because I notice a tourist who talk to ticket counter staff. Finally I decided to got out from queue before actually reached in front of ticket counter staff.

I finally headed to KL Sentral information counter to ask how to reached Batu Caves. According to information staff, to reached Batu Caves, I must use KTM 1 free bus from KL Sentral to Sentul Station. Well from Sentul Station then continued using commuter train to Batu Caves. I ask where did the free bus located, actually KTM 1 bus shelter was in front of Airport Coach / Sky Bus Shelter in KL Sentral.

KTM1 path

Top Left: Direction board was in front of Skybus shelter that directed tourists to KTM 1 bus to Sentul Station

Right: Direction on the floor directed me towards KTM Bus 1 shelter.

Bottom Left: KTM 1 Bus parked at Sentul Station.

Free bus KTM would go if passengers was full, I didn’t wait to got a seat. When bus had available space then I immediately got in. The journey from KL Sentral to Sentul Station took approximately 25 minutes on the fluently road.

Once arrived at Sentul Station, I immediately headed into station to bought commuter train tickets. I immediately bought a round-trip ticket because it was cheaper 1 Ringgit than one-way ticket. Once I paid 5 Ringgit then I got a ticket pass to got in the train line. This card would bring me back to Sentul Station again after finishing Batu Cave visitation.

 Sentul Station

 

Top Left: Sentul Station inside

Top Right: Sentul Station ticket counter

Bottom Right: Ticket pass (Sentul station to Batu Caves station round trip)

Lower Left: Commuter Train that carried passengers from Sentul Station to Batu Caves station

 

Once got in to train line,  a commuter train was waiting. This Chinese-made train stopped long enough to waited for passengers until all seats were full.

It was clear that KL Sentral point still exist on the route map above the train door, it indicated that initially this train passed KL Sentral when it ran towards Batu Caves, but the line had been changed and shortened into Sentul Station-Batu Caves Station.

I noticed that the flow of passengers up and down along the way to Batu Caves was very quiet, it also seen from some station buildings along trip that poorly maintained in cleanliness so the building seen dull and some escalator didn’t work. The line was arguably quiet.

After 20 minutes finally I arrived at Batu Caves.
Some interesting views in Batu Caves that I got:

Batu Caves2

Top Left: The corridor that was used to sold souvenirs after exit from Batu Caves Station

Top Right: The Murugan Statue that became the icon of Batu Caves tourism.

Bottom Right: Took off the shoes before entering Venkatachalapathi temple

Bottom Left:  Food stalls around Batu Caves.

And before moved to Petronas Twin Tower, I decided to lunch at a food stall around Batu Caves. Most of food stalls were managed by Malaysian Indians because Batu Caves was their worship place

Cheap Hotel Nearest to KL Sentral, Malaysia

When Airport Coach arrived in KL Sentral at 10:03. My first destination was Batu Caves. But to lighten my backpack, I would leave my bacpak at hotel although it wasn’t time to checked in and I would only bring folding bags that I filled with drinking bottle, wallet, passport, mobile phone and camera.

The hotel that I chose was Westree Hotel on Jalan Tun Sambanthan precisely at south-east of KL Sentral.

I chose it because it was very close to Airport Coach and Skybus Shelter in KL Sentral because on tommorow I had to fly to Singapore by Scoot Airlines. So on tomorrow I must go to KLIA2 around 4:30 am.

I booked it 9 days before by Agoda with price about Rp. 331.772 / night (very cheap to be occupied by 2 adults and 1 child). The price includes tourism tax 10 Ringgit (since September 1, 2017, Malaysia imposed tourist stay tax of 10 Ringgit per night).

Peta Hotel Westree

Very close….. Just 3 minutes walking to Airport Coach and Skybus Shelter

Jl Tumsanbhatan

 

Left: As soon as Airport Coach arrived in KL Sentral, I just needed to got out from a corridor to Tun Sambanthan Street

Right: Tun Sambanthan Street was dedicated to Malaysian Indian leader who be one of Malaysia’s founding fathers. Hotel Westree is precisely located on the edge of this street.

Westree Inside

Top Left: Westree Hotel’s front door which precisely on the edge of Tun Sambanthan Street and just opposite from the street is Airport Coach and Skybus shelters.

Top Right: Lobby Hotel Westree

Bottom Right: When checked-in, hotel receptionist ask about 40 Ringgit for a deposit and can be taken back when checking out

Bottom Left: Hotel cleanliness is usually reflected in the cleanliness of toilet. Westree Hotel’s toilet is very clean.

The majority of Westree Hotel’s employees of are Malaysian Indian because the hotel is located in Brickfields area that was known as Kuala Lumpur’s Little India. Several time ago the area around this hotel are brick producer.

The staffs was generally helpful and friendly. Receptionint staff gave me Kuala Lumpur Tourism Map.

I checked-in to hotel at 5:00 pm after I satisfied got around Kuala Lumpur then checked-out on next day at 04:15 to went to KLIA2.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Bus from KLIA to KL Sentral, Malaysia

This is continuation of article:

“Malaysia Airlines Flight MH 0726 from Jakarta to Kuala Lumpur, Malaysia”

(https://wordpress.com/post/travelingpersecond.com/375).

Malaysia Airlines that I rode landed at KLIA on 7:31 pm Kuala Lumpur time.

Towards KLIA Exit Door
After the plane smoothly landed, I dropped off at KLIA arrival hall at 3rd floor. When I
got off from plane, usually I would look for drinking water station to filled my drink
bottle but I couldn’t find it until I was out from airport.

Menuji Exit Gate KLIA

Top Left: I walked along arrival hall H towards immigration counter

Top Right: Passport checking process at immigration counter

Bottom Right: Passed baggage conveyor belt …. but I didn’t carry luggage, so I continued

towards exit door.

Bottom Left: I reached at airport exit door

 

Towards Airport Coach Shelter

Once out of airport exit door, of course, One thing that I looked for was location of Airport Coach that would departed to KL Sentral. Well, I found these direction in KLIA:

sign KLIABecause I was still on 3rd floor, it means I should go down to 2nd floor to got Airport Coach that will took me to KL Sentral (Kuala Lumpur).

Towards Bus Shelter KLIA

Top Left: Then I walked down the escalator to 2nd floor of KLIA

Top Right: And I always followed that sign to Airport Coach shelter

Bottom Right: A moment later I passed a corridor above a driveway.

Bottom Left: I reached the end of corridor adjacent to car park area, Turned to left was escalator to Airport Coach shelter and to right was lift to the same shelter. Actually Airport Coach shelter wasn’t located on 2nd floor but on 1st floor.

escalator n liftTop Left: KLIA car park area at 2nd floor

Top Right: Toilet at the end of corridor before exit to  car park area, very clean and I had
used it for a few moments here.
Bottom Right: At first I wanted to get down to Airport Coach shelter through this
escalator but it was under construction,
Bottom Left: Finally I must use this lift to Airport Coach shelter. At the end of the
corridor near the lift is direction to famous transit hotel in KLIA (Hotel Sama-Sama).

bus shelter

Top Left: Once got off from lift, I was immediately seen Airport Coach ticket counter to KL Sentral

Top Right: I ultimately rode the Airpot Coach with ticket price 10 Ringgit for adults and 6 Ringgit for children.

Bottom Right: Yoyo Express Bus which also took passengers in KLIA and KLIA2. The bus had destination to several cities outside of Kuala Lumpur such as Johor Bahru, Ipoh and Taiping

Lower Left: Finally I boarded Airport Coach to KL Sentral. Distance which would covered about 60 km with travel time about 1 hour journey.

 

 

7 Jam Menikmati Keindahan Kuala Lumpur

Jika bertemu turis Eropa dan Amerika tuh ya bikin ngiler, karena mereka rata-rata memiliki jadwal cuti yang panjang hingga berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan. Nah ketika mereka nanya ke Gw berapa lama lo cuti….yes tepat 12 hari…..sedihhhh….hahaha.

Tapi Gw ga nyerah….dengan waktu yang sedikit ini Gw akan berkeliling dunia.

Kembali ke masalah waktu….Setiap Gw transit pendek atau liburan 3-4 hari saat weekend plus tanggal merah ke negeri orang selalu Gw manfaatkan untuk explore kota yang Gw singgahin.

Artikel ini pun bercerita bagaimana Gw menghabiskan waktu selama 7 jam di tengah kota Kuala Lumpur antara jam 10:00 – 17:00

1. Batu Caves.

Perjalanan dimulai dari jam 10:30 dari KL Sentral. Menggunakan kombinasi bus gratis KTM 1 dan kereta komuter Sentul – Batu Caves.

KTM KOMUTER

Kiri: Bus gratis KTM1 (KL Sentral-Stasiun Sentul)

Kanan: Kereta komuter (Stasiun Sentul – Stasiun Batu Caves) 

Jam 12:06 Gw tiba di Batu Caves. Ini adalah kali kedua Gw berkunjung ke tempat ini. Tidak ada yang berubah sejak 4 tahun lalu, hanya ada beberapa renovasi di beberapa bagian kuil.

Batu Caves

Kiri Atas: Patung Hanuman

Kanan Atas: Gw ga tahu itu kuil apa….yang jelas ini berada tepat dibelakang patung Hanuman

Kanan Bawah: Venkatachalapathi Temple

Kiri Bawah: Patung Murugan

Wisata di Batu Caves ini Gw tutup dengan makan siang di Dhivya’s Café – sebuah warung makan India di halaman depan Batu Caves -. Cukup makan nasi goreng dengan harga 4 Ringgit.

Dhivya's cafe

2. Petronas Twin Tower

Jam 14:42 Gw tiba kembali di KL Sentral menggunakan jalur dan moda transportasi yang sama ketika menuju Batu Caves. Dari KL Sentral Gw berpindah menggunakan LRT Kelana Jaya Line seharga 2,4 Ringgit dan akhirnya Gw sampai di KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Keluar melalui KLCC Exit Jalan Ampang akhirnya Gw menemukan Petronas Twin Tower.

Panas menyengat mengharuskan Gw mengambil foto gedung kembar ini tepat saat ada awan menghalangi sinar matahari. Ketika awan sudah bergerak membuka kembali sinar matahari ke bumi maka Gw kembali berteduh di bawah pohon di halaman gedung kembar itu. Begitu seterusnya hingga banyak turis memperhatikan keanehan Gw….hahaha

Suria KLCC

Kiri Atas: Exit gate KLCC menuju Jalan Ampang

Kanan Atas: Jalan Ampang

Kanan Bawah: Suria KLCC mall bersebelahan dengan Petronas Twin Tower

Kiri Bawah: Petronas Twin Tower.

Setelah mengabadikan Twin Tower dan beberapa landmark disekitarnya,  Gw segera beranjak menuju Pavillion di Bukit Bintang menggunakan GOKL City Bus.

3. Pavillion Bukit Bintang

Menggunakan bus gratis GOKL, Gw berkesempatan untuk kembali singgah di Pavillion, Bukit Bintang sekitar pukul 16:18. Tema Easter membuat dekorasi di pelataran Pavillion terlihat sangat menarik mata.

Pavillion2

Kiri Atas: Air mancur di depan Pavillion

Kiri Bawah: Sephora Mall….Pusat Kosmestik dan perawatan kulit di Bukit Bintang

Tengah: Hotel bintang lima JW Marriot Bukit Bintang

Kanan: Tema Easter di halaman depan Pavillion

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera menuju Petaling Street di Pasar Seni.

4. Petaling Street

Menuju Petaling Street, Pasar Seni, Gw kembali menggunakan bus gratis GOKL dan pukul 16:53 Gw tiba di terminal Pasar Seni.

Gw hanya bertanya kepada orang lokal di sekitar Pasar Seni untuk menunjukkan arah Petaling Street. Bapak setengah baya dengan baik menujukkan ke Gw arah menuju kesana. Dengan berjalan kaki menuju Petaling Street, gw menyapu suasana Pasar Seni yang sudah berubah lebih maju daripada 2014 silam. Dalam 7 menit Gw sampai di Petaling Street.

petaling street

Kiri Atas: Stasiun MRT Pasar Seni

Kanan Atas: Gerbang depan Petaling Street

Kanan Bawah: Bagian dalam Petaling Street

Kiri Bawah: Suasanan jalanan di depan gerbang Petaling Street

Petaling Street masih belum begitu ramai pengunjung karena Gw datang kesana sekitar jam 5 sore, para pedagang sedang bersiap-siap dengan barang dagangannya. Gw hanya membeli gantungan kunci disini.

Dan Petaling Street menjadi destinasi terkahir pada trip kali ini. Karena Gw harus bersiap menuju Singapura.