Bersepeda Motor ke Taman Nasional Way Kambas….Amankah?

WAY KAMBAS….Diambil dari nama sungai yang mengalir di dalam area Taman Nasional itu sendiri. Taman Nasional seluas 125 ribu hektar ini merupakan rumah bagi program konservasi beberapa hewan langka seperti gajah, badak dan harimau sumatera

Hanya saja ketika Aku bertanya kepada salah satu petugas di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Way Kambas, Pusat Konservasi Badak dan Harimau Sumatera belumlah dibuka untuk umum.

Beberapa jam sebelum kedatanganku di TNWK………………….??????

Hari itu adalah hari keduaku dalam eksplorasi Lampung. Pada malam hari sebelumnya, Aku sibuk mencari informasi tentang keamanan menggunakan sepeda motor menuju Way Kambas dengan bertanya kepada empat temanku yang asli Lampung. Dari keempatnya, tiga diantara temanku meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja sedangkan seorang lagi lebih ragu jika aku bermotor ke Way Kambas karena Aku bukan asli orang Lampung…..takut begal lah intinya….seakan otakku sudah tercemar media yang sering mengabarkan hal itu…..”tentang Lampung dan tentang begal motor”.

Simple saja akhirnya….karena pendapat mereka tiga berbanding satu, Aku putuskan untuk berangkat ke Way Kambas keesokan harinya menggunakan sepeda motor sewaan.

Perjalanan dimulai,

Berangkat dari Redoorz @ Jalan Pangeran Diponegoro di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung tepat pukul 07:25. Menyusuri jalanan kota Bandar Lampung selama 35 menit akhirnya Aku benar-benar meninggalkan Kota melalui gerbang akhirnya:

Gerbang “Selamat  Jalan Bandar Lampung” di Jalan Lintas Barat Sumatera.

Aku mulai menyusuri jalanan yang banyak dilewati bus antar kota dan truk-truk bermuatan logistik. Jalur cepat ini mengharuskanku menarik gas sepeda motorku supaya tidak diklakson terus-menerus dari belakang.

Pada menit ke-40, Aku tiba di keramaian warga lokal. Aku mencari papan alamat disekitar, baru Kutahu bahwa ini adalah pasar Natar.

Pasar Natar….nadi ekonomi diantara Bandar Lampung dan Metro.

Melanjutkan perjalananku kembali, di menit ke-55, Aku sampai di depan Bandara Internasional Radin Inten.

Bandara ini tepat sekali berada di pinggiran Jalan Lintas Barat Sumatera.

Tertegun sejenak dan duduk diatas sepeda motor yang kumatikan, Aku mengamati sebentar aktivitas di sekitar Bandara. Sengaja kuluangkan waktu, karena Aku belum pernah mencicipi sama sekali Bandara ini. Sayang kedatanganku ke propinsi paling selatan Sumatera ini menggunakan jalur darat yang dikombinasikan dengan jalur laut Merak-Bakauheni.

Perjalananku di sepanjang Jalan Lintas Barat Sumatera ini berkejaran dengan bus ukuran tiga perempat.

ayolah bang sopir, Kita balapan.

Sebetulnya Aku bisa saja naik bus ini menuju Metro lalu berganti lagi dengan bus lain menuju Way Jepara (daerah terdekat dari Way Kambas yang terakses dengan angkutan umum). Dari Way Jepara bisa berlanjut dengan ojek menuju Way Kambas.

Atau bisa juga menggunakan Bus DAMRI, yang menurut info terkini yang kudapat, hanya berangkat sekali setiap hari dari Terminal Rajabasa di Bandar Lampung pada pukul 8 pagi dan berhenti tepat di Pusat Latihan Gajah, Way Kambas.

Tapi Aku lebih memilih menggunakan motor sewaan seharga Rp. 150.000/hari karena sepulang dari Way Kambas, Aku bisa leluasa mengeksplore kota Metro. Selain itu, Aku lebih bisa mendeteksi secara akurat jalur yang akan Kulewati menuju Way Kambas.

Menit ke-65, Aku tiba di sebuah pertigaan besar yang  kedua percabangannya sama-sama menuju ke Metro.

Tugu Punduk (sebutan untuk keris asli Lampung)….Pilih lurus atau ke kanan?

Aku lebih memilih memakai jalur alternatif ke kanan. Menurut google maps, jalur ini lebih cepat dan tidak macet.

Benar bro…kagak macet….swear

tapi sepi minta ampun…..Jalan Raya Kota Metro memacu detak jantungku….mulai sedikit jiper.

Setelah melewati hamparan kebun karet itu, Aku selalu mengikuti lekukan jalanan dan kanal disisi kanannya.

kanal disisi kanan jalan Raya Kota Metro.

Senangnya hati berhasil melewati kesepian itu ketika menembus gerbang awal Kota Metro

Menit ke-90, Selamat Datang Kota Metro.

Kembali menemukan keramaian, kuputuskan untuk memenuhi tangki bahan bakarku sebelum Aku terjebak dalam kesepian kembali.

Tugu Pos Polisi ini adalah landmark pertama yang kulewati ketika memasuki pusat Kota Metro.

Menit ke-115….bye-bye keramaian…

Aku meninggalkan Kota Metro di Jalan AH Nasution
Gerbang “Selamat Datang Kabupaten Lampung Timur “bersebelahan dengan Gerbang “Selamat Jalan Kota Metro”.

Terjebak dalam kemacetan panjang, Aku penasaran, ada apakah gerangan?. Mecoba merangsek ke depan dengan Honda Beat sewaanku menerobos jalan tanah di pinggiran aspal jalan raya, akhirnya kutemukan jawabnya….Bus penumpang besar mogor di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar, mencoba didorong banyak penumpang dengan pengawasan para polisi lalu lintas.

Menit 120. Welcome Pasar Pekalongan !….pasti disini banyak orang keturunan Jawa….namanya aja begituh.

Pasar Pekalongan di jalan AH Nasution

Menit ke-130, Aku kembali dihadapkan pada dua pilihan….dirimu atau dirinya?

Aku lebih memilih Dia…..#apaansih.

Ambil belokan ke kanan menuju Jalan Raya Batanghari Nuban
Taman Maskot tepat di tengah pertigaan itu.
Beginilah suasana Jalan Raya Batanghari Nuban

Halusnya aspal Jalan raya ini akan berlanjut hingga Jalan Raya Sukadana….tapi ya begitu, Akulah si pemilik jalan raya….sepi brur.

Pada menit ke-150, tibalah diperempatan ini:

Perempatan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Lintas Timur Sumatra

Muara jalan ini sebetulnya sama:

Ke Kanan ke Way Jepara dan Kamu akan menelusuri Jalan Lintas Timur Sumatera.

Atau bisa juga lurus, Ke Way Jepara juga sih….tapi Kamu akan melewati perkampungan warga dan akan tembus kembali ke Jalan Lintas Timur Sumatera.

Tentu kupilih yang lurus, supaya aku bisa melihat aktivitas para warga Sukadana.

Mencapai Pusat Perbelanjaan Sukadana di menit ke-160

Tak berselang lama, Kamu akan melewati landmark ini:

Tugu Kota Sukadana sebagai kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Timur.

Tugu kota Sukadana ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan dari Kecamatan Sukadana yaitu Kolonel Arifin.

Dari tugu ini luruslah hingga bertemu perempatan di dekat Kantor Kecamatan Sukadana, lalu segeralah berbelok kekiri

Menuju Jalan Minak Rio Ujung setelah belok kiri

Pada menit ke-170, Aku memasuki Jalan Lintas Timur Sumatera setelah melewati landmark ini:

Taman Banding menampilkan patung pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Hanafiah

Boleh kubilang aspal jalanan Lintas Timur Sumatera di Lampung Timur ini sangat mulus.

Jalan Lintas Timur Sumatera kayak aspal sirkuit motogp ya….
Tugu Selamat Jalan Kecamatan Sukadana kulewati di menit ke-175

Aku berganti memasuki Kecamatan Way Jepara. Dan yang kutunggu tiba……ya, Aku ingin melihat bagaimana aktivitas pasar Tridatu. Pasar yang terkenal di dunia maya karena sering disebut para traveler ketika menuju ke Way Kambas.

Pasar Tridatu di menit ke-180.

Aku tak akan berbelok kekiri dari pasar ini untuk menuju ke Way Kambas. Aku lebih memilih lurus untuk menambah kembali referensiku dan kubagikan ke kalian.

Ya….Aku lebih memilih menuju Pasar Gunung Terang (sayang Aku lupa membuatkan fotonya untuk kalian) yang berjarak 5 menit berkendara motor lalu baru berbelok ke kiri.

Belokan setelah Pasar Gunung Terang, masuk gerbang Desa Labuhan Ratu VI

Semakin dekat dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Aku memasuki desa Labuhan Ratu VI

Jalanan sepanjang Desa Labuhan Ratu VI
Rest Area Labuhan Ratu di ujung desa

Rest area ini banyak digunakan para wisatawan yang akan menuju atau bahkan telah usai dari wisata PLG Way Kambas.

Karena rest area ini tepat berada dipertigaan di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, maka aku mengikuti petunjuk arah dengan berbelok ke kanan.

Perhatikan tanda panah….belok ke kanan menyusuri jalanan yang membelah Taman Nasional Way Kambas
Jalan sepanjang Taman Nasional Way Kambas

Disepanjang jalan TNWK, Aku sesekali menemukan mobil para wisatawan berhenti untuk sekedar memberi makan kepada sekawanan monyet liar yang sering melintas jalanan.

Akhirnya penantianku tiba….MENIT KE 205 Aku tiba di gerbang Pusat Latihan Gajah, Taman Nasional Way Kambas.

Bahagia banget sampai di Gerbang Pusat Latihan Gajah Way Kambas.

AMANKAH perjalananku?…..Boleh kusimpulkan sangat aman dan tak ada nuansa kriminalitas disini. Hanya pesan dari para temanku yang asli Lampung….Jangan pulang melebihi jam 6 sore.

Bahkan Aku meninggalkan TNWK tepat pukul 14:00

Jadi sudah pernahkan Kamu melihat gajah liar?

Atau lihat gajah mandi?….porno ih

Atau lihat gajah main bola?….atau main holahop?

Makanya dong ke Way Kambas……… >

Enjoying 6 Culinary Places in Belitung

Sometime, My cheap traveling habit often sacrifice an important thing. A thing which often becomes a traveler concern when visiting a new destination i.e tasting the destination’s culinary wealth.

But this traveling was different. This was a business trip which allowed me to explore Belitung taste from famous culinary places. For a moment, I would leave street foods which usually be my daily meal when traveling.

So this is the point … for 3 days – 2 nights in Belitung, I visited these culinary places. Places where you can certainly visit also when traveling there.

1. Belitung Noodle

Belitung Atep Noodle

My visitation in Belitung was welcomed with Belitung’s noodle dish. Yellow noodles plus sprouts smothered in shrimp sauce, combined with “emping” (Indonesian chips) and shrimp “bakwan” (an Indonesian fried meal consisting of vegetables and batter) made this visit so memorable.

Don’t forget to eat “kepiting isi” (processed crab meats) at this “Mie Atep” resto. You don’t have to bother in breaking the crab, because its meat has been separated and put back into its head shell with a thin bandage of egg yolk. Very nice…… it can’t be revealed.

Combined with “jeruk kunci” (a kind of orange) ice, it will help to cooling your body from hot Belitung weather.

2. Kepayang Island Seafood

My sunburned face

Starved tourists after snorkling and sightseeing in Lengkuas Island waters will visit this restaurant.

A restaurant with seafood menus majority is located on Kepayang Island.

Don’t ask about the taste ! … How does it feel when you starve in waters then eat fresh grilled fish on an exotic island … hmmm. I am just still remember the delicious taste when writing it in this article.

3. Dapoer Belitung

Located on edge of Sudirman road and has seafood dishes with a combination of spices which make my tongue very addict. Combined with various variants of fruit juice, making my night in Belitung very special

4. Kedai Kelapa

A right place to relax in the night after a day sea tour is cafe. A cafe which be our choice that night was Kedai Kelapa.

Try its milk coffee ! … so wonderfully delicious, I spent two glasses until late at night.

A place where very identic with young people. It can be seen from three-dimensional art in its interior. It made me feel like I’m in a modern cafe as good as cafes in Jakarta (Indonesia capital city).

Come to Jalan Nuri and spend your night at this café !…. I guarantee, it will be nice.

5.Kupi Kuli

Do you want to sip coffee from Belitung with its famous aroma?

Order a cup of Kuli Kupi in back room of Andrea Hirata Word Museum !

You can enjoy coffee which is commonly brewed for tin mining workers only for USD 0,3. Coffee which boiled with firewood and drunk in a typical Belitung tavern.

You might be able to try it…It must.

6. Fega Restaurant.

Enjoying lunch on Serdang beach is a beautiful closing for my adventure in Belitung. Resto which is directly connected to pier, makes it so crowded because it was visited by many tourists.

The two-storey main building which was shaped like a ship gives a characteristic that this restaurant is a good sea food presenter.

Located in eastern part of Belitung and standing right on edge of brackish water lake, this restaurant feels calm and suitable to be used as a combination of culinary tourism as well as a place for your fatigue relaxation after exploring Belitung.

So.…..just come.

Busan International Film Festival Square…Asal Muasal BIFF

Jika….

Negara Paman Sam memiliki Sundance Film Festival

Negeri Pecahan Es mempunyai Toronto Film Festival

Atau Negara Kota Mode tersohor dengan Cannes Film Festivalnya

Maka Negeri Ginseng juga memiliki hal yang sama….Busan International Film Festival.

Diselenggarakan di sekitar akhir tahun yaitu September atau Oktober, BIFF selalu memperkenalkan sutradara-sutradara pendatang baru Asia dengan karya pertamanya. Festival yang dibuka pertama kali pada 23 tahun lalu, kini telah berpindah tempat ke Centum City di daerah Haeundae-gu.

Kali ini Aku tak menuju ke new homebase nya  BIFF, tetapi Aku akan menyusuri sebuah daerah yang menjadi cikal bakal BIFF yaitu Nampo-dong. Kemudian, untuk menapak tilas asal muasal BIFF maka Aku menuju ke BIFF Square.

Perjalanan dimulai dari stasiun terdekat dari Kimchee Busan Guesthouse  yaitu stasiun MRT Beomnaegol menggunakan MRT Line 1 (Orange Line). Setelah melawati 8 stasiun, Aku turun di stasiun MRT Jagalchi. Satu destinasi lain yang bisa dikunjungi di dekat stasiun ini adalah Jagalchi Market (menjual beragam seafood) yang buka dari jam 5 pagi hingga 10 malam.

Keluar dari exit gate, Aku sudah disambut oleh pedangang street food  tepat di pintu keluar stasiun. Karena udara dingin menusuk tulang, asap yang keluar dari pembakaran tungku itu membuat para penumpang MRT rela berhenti sejenak untuk sekedar memakan makanan hangat yang dijual pembeli itu.

Aku sedikit mengalamai disorientasi kali ini, bingung mencari jalan BIFF Square, karena semua jalan terlihat ramai. Akhirnya kuberanikan diri untuk menghampiri pak polisi yang sedang berjaga di pos polisi lalu lintas. Dengan sabar, Dia menjelaskan arah kepadaku sembari menunjukkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan bahasa Korea…..Walau tak mengerti bahasa Korea, Aku rasa cukup mudah memahami penjelasannya.

Jalan BIFF membelah tempat itu sepanjang 150 m. Dan ketika Aku mengunjunginya di malam hari, sangat mudah menemui tenda-tenda street food. Tenda-tenda berbentuk rumah-rumah mini ini mungkin bertujuan melindungi si pembeli dari dinginnya udara Busan di malam hari. Tersusun berjajar di tengah jalan, menjadikan Jalan BIFF menjadi pasar kuliner dimalam hari.

Mengkol sedikit ke jalan Gwangbok-ro

Aku hanya sedikit mencoba memakan sate seafood di salah satu tenda, lalu Ku lanjutkan untuk mencari makan malam yang lebih sedikit nendang.

Karena begitu susah menemukan makanan berat yang sesuai dengan selera, akhirnya hinggaplah Aku di sebuah warung makan mungil di deretan pertokoan sekitar Jalan BIFF. ”Ahangeya” nama tempat itu. Aku lebih memilih makan beef rice bowl seharga 4.000 Won (Rp. 48.000).

Selain tenda-tenda makan, Aku juga menemukan banyak penjual pernak pernik souvenir, t-shirt dan beberapa peralatan elektronik. Tapi perhatianku tak tertuju pada itu, Aku lebih memilih untuk mencari jaket musim dingin di sebuah konter penjualan Uniqlo di bilangan BIFF Square.

buat ganti jaket…masak iya jalan 12 hari hanya bawa 1 jaket
seharga Rp. 480.000

Hawa dingin membuatku tak kuasa menahan bekunya tubuh….Aku tak bisa berlama-lama disini, dan kuputuskan untuk balik ke guesthouse karena esok hari Aku akan berjalan panjang dan menanjak untuk berkunjung ke Gamcheon Culture Village.

So…..bobok yuk !

Bersih dan Modern….Gaya dari Kimchee Busan Guesthouse

Tentu Aku tak pernah tahu kenapa guesthouse ini diberi nama Kimchee. Yang hanya Ku tahu, kimchee atau kimchi adalah makanan khas Korea yang terbuat dari sayuran yang difermentasi dengan aneka macam bumbu yang pada akhirnya berasa pedas dan asam. Mungkin guesthouse ini akan menjadi tempat berkumpulnya para pengelana dari beraneka macam bangsa dengan tujuan sama yaitu menikmati keunikan Korea…..halah, ngawur nih statement.

Dorm atau dormitory sudah menjadi pilihan umum kaum backpacker dalam berkelana. Selain menawarkan keamanan budget, dorm juga menawarkan satu opsi untuk membuat jaringan antar backpacker yang beragam kewarganegaraannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena di setiap dorm room akan diisi 12-16 backpacker untuk tidur bersama….hushhh, di ranjangnya masing-masing maksud Saya.

Kali ini pilihanku jatuh pada Kimchee Busan Guesthouse sebagai tempat bernaung selama berpetualang di Busan. Tiga hal yang menjadi concern penting dalam memilihnya adalah harga, lokasi dan feedback ratenya yang bagus.

Aku sudah memesannya 4 bulan sebelum keberangkatan, sehingga kupastikan Aku mendapatkan harga terbaik. Guesthouse seharga Rp. 180.000 (KRW 15.000) terletak di jalan Hwangnyeong-daero. Berjarak sekitar 270 meter dari Stasiun MRT Beomnaegol sehingga guesthouse ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedatanganku di guesthouse disambut hangat dengan resepsionis cantik. Setelah menyerahkan passport dan Won, Aku mendapatkan access card menuju dorm room.

Si resepsionis cantik
Ruang resepsionis

Untuk ukuran guesthouse tentu menjadi hal yang luar biasa karena ketersediaan lift di dalamnya. Tak seperti banyak dorm yang pernah kusinggahi dimana Aku harus menyiapkan otot kaki untuk menaiki puluhan anak tangga sebelum menuju ke kamar.

akses lift menuju dorm room

Memasuki kamar, kelelahan itu terbayar dengan leganya ruangan dorm yang terdiri dari 10 bed dengan masing-masing loker yang telah disediakan disebelah bed.

Dorm room

Di guesthouse inilah, Aku pertama kalinya menghirup segarnya aroma Soju –minuman khas Korea-. Walaupun Aku tak meminumnya, setidaknya Aku tahu aroma dan wujudnya serta bagaimana cara meminum Soju dari teman-teman sekamarku.

Keisenganku yang lain adalah menggunakan hair dryer yang disediakan di shared bathroom untuk mengeringkan kaos kaki basahku. Sudah menjadi kebiasaan, Aku hanya membawa 2 pasang kaos kaki, tak peduli seberapa panjang perjalananku. Setiap dua hari Aku akan mencuci kaos kaki yang kugunakan dan kukeringkan dengan cara apapun.

Hal baik lain dari guesthouse ini adalah menyediakan container untuk menyimpan backpack dan barang-barang lain yang dititipkan oleh penginap. Biasanya penginap akan meyimpan backpacknya ketika mereka datang lebih awal dari waktu check-in atau akan meninggalkan kota ketika jam keberangkatan mereka masih jauh dari waktu check-out.

Aku pun menitipkan backpackku karena keberangkatanku ke Seoul menggunakan bus terjadwal pukul 8pm sedangkan Aku waktu check-out ku pukul 12pm

Guesthouse juga menyediakan rak dan kulkas untuk menyimpan makanan para penginap….awas, jangan ambil makanan orang ya….hehehe. Biasanya penginap yang sedikit lebih lama tinggal di guesthouse akan menyimpan makanannya disini. Wah kalau Aku dipastikan ga pernah menggunakan fasilitas ini.

Kimchee snack and Bar

Tentu Kamu memiliki selera tersendiri dalam memilih penginapan…..yang penting tujuan kita sama, guys….jalan-jalan. That’s it.

Mengunjungi Sungai Siak, Pekanbaru

Percakapan berbahasa Jawa waktu itu memberiku sebuah fakta bahwa penduduk Pekanbaru kebanyakan masih berdarah Minang. Semakin memperkuat mindsetku bahwa orang Minang memiliki budaya merantau yang sangat kuat.

Hanya butuh 10 menit bagi pengendara tranportasi online itu menjelaskan semua hal tentang Pekanbaru sampai kita berdua berhenti tepat di depan lobby Hotel Sri Indrayani.

Menitipkan ransel dan melahap 4 helai roti tawar menjadikanku siap di menit pertama dalam eksplorasi Pekanbaru.

“Hi Donny, Kamu harus berjalan menuju utara jika ingin menikmati sungai Siak”, gumamku.

Ketika mendengar kata Pekanbaru, otakku selalu terfikir oleh sungai Siak. Bagaimana tidak? Sungai ini pernah menyandang sebagai sungai terdalam di Indonesia yang pada masa kejayaannya biasa dilalui oleh kapal tanker dan kapal peti kemas.

Menyengatnya udara Pekanbaru yang membakar kulit diiringi dengan ramainya jalanan Pekanbaru mengiringi langkahku untuk semakin mendekati sungai Siak. Hingga akhirnya aku bertanya kepada seorang polisi lalu lintas untuk menunjukkanku jalan tercepat menuju jembatan Siak 1.

Kabarnya sungai Siak ini memiliki 4 jembatan yang menjadi landmark Pekanbaru. Setelah bermandi keringat akhirnya Aku tiba di tepian sungai Siak. Tepat di bawah jembatan Siak 1

Terkenal dengan sebutan jembatan Leighton yang dibangun oleh PT Chevron Pacific Indonesia

Tak sabar untuk melihat bentangan sungai dengan keindahan arsitektur seluruh jembatan yang dibangun diatas sungai legendaris ini, Aku segera bergegas menuju keatas jembatan Siak 1.

Aku tepat di tengah jalur pejalan kaki jembatan Siak 1 yang sudah berumur 42 tahun….ngilu dengkul euy.

Begitu di atas jembatan, Aku bisa menikmati lebarnya sungai dengan lebih leluasa….pantesan kapal tanker bisa masuk.

Memandang jauh ke depan, terlihat bentangan jembatan yang lain. Lengkungan kuning yang menjadi ciri khas jembatan Siak 3 dan konstruksi jembatan Siak 4 yang saat itu belum jadi tapi sudah menampakkan bentuk (Membaca surat kabar, jembatan ini sudah diremikan Februari lalu).

Itulah jembatan Siak 3 dan di kejauhan itu adalah tiang jembatan siak 4

Tak mau meninggalkan begitu saja sungai Siak, Aku berusaha untuk menemukan aktivitas warga di sekitarnya. Perlahan Aku melangkah menuju jembatan Siak 3. Melewati salah satu sisi sungai, Aku menjumpai tenda-tenda kuliner yang belum buka sebagian.

Warung kuliner di sepanjang sungai Siak.

Kemudian Aku terduduk di sebuah taman untuk berteduh dari panasnya matahari sekaligus melihat aktivitas warga Pekanbaru. Kuperhatikan satu pasangan muda yang asyik bermain di taman dengan anak pertamanya. Aku juga tekun melihat beberapa warga menjaring ikan di bawah jembatan Siak 1. Terkadang hilir mudik kapal patroli Kepolisian Air Polda Riau mengalihkan perhatianku yang sedang khusu’melihat aktivitas-aktivitas itu.

Taman di tepian sungai, dekat dengan jembatan Siak 1

15 menit kemudian Aku kembali menyusuri tepian sungai hingga tiba tepat di bawah Jembatan Siak 3. Jembatan warna kuning yang terlihat lebih artistik.

Area bawah jembatan yang sangat terawat dengan adanya taman yang lebih luas dan dibawah sisi jembatan yang lain juga terdapat destinasi wisata “Rumah Tuan Kadi”.

Riverside park tepat dibawah jembatan Siak 3
Rumah Tuan Kadi

Dan diseberang sungai terlihat jelas markas Polisi Air dengan aktivitas di dalam kapal patroli yang begitu sibuk.

Markas Kepolisian Air Polda Riau

Setelah merasa cukup puas menyambangi sungai Siak dan kulihat waktu sudah menunjukkan jam 11:15, akhirnya Aku meninggalkan sungai ini untuk menemukan destinasi lain di Pekanbaru.

Traveling to Many Countries, Why Not?

Donny, I wonder, How do you travel so much?? Working in office makes me travel less since I have to ask for permission. How about you?

The question which arose in my WordPress App when I stuck in traffic jam on highway.…yesss.…Wulan “the cute” was a little curious why I can travel to many countries (yess….on January 2020, I has visited 25 countries).

Solo-traveling like marijuana.…but that’s for me, I don’t know how about you guys?.… If in three months I don’t travel, it will definitely make me “fall in depression (hahaha)”.… if depressed, I will usually stuck at corner of my desk.

Then definitely I will open my laptop and look for LCC (Low Cost Carrier) webs from various countries for cheap ticket.… that is a impact of my other strange habit….i.e I usually collect many airline tickets …. yes, I have tried 28 airlines during traveling as a backpacker.

Southeast Asia, East Asia and South Asia have been visited, next destination is Middle East….”You must go to Mecca” my mom said … “calm down,mom. I have a hajj ticket which is countdown in 9 years.… I hope I can “umrah” while waiting for Haj”, I answered.

Uppsss….Sorry, Wulan … I didn’t yet answer your question.

So these are why I can go to many countries:

  1. I have big intention to explore 100 countries.

Intention is like fuel. No intention means no action. If there is no action, I will be stuck forever in Jakarta.

My intention is visiting 100 countries in my life. It is meaning that I will set my foot in 60% from all country on earth.

Do Anyone want to join with me?

2. Just being a crazy backpacker.

Even my friends called me “Crazy Backpacker”.…look it:

Yes….

I’m crazy….I always buy my ticket without thinking.…the important thing is cheap and headed for a new destination.

I’m crazy …. Every time I meet friends, I’m always provoking them to join in my trip.

Putri, Anggi and Dini (they are friends in my office) always refuse if I invited them to traveling.

I’m crazy.…I often dream about traveling.

I’m crazy…. Every I receive my salary.…I murmured, “Which destination will I visit?”

I’m crazy….When entering Korea, I almost deported because only bring USD 100 without a credit card in exploring Busan and Seoul for 6 days.

I’m crazy.…I almost got freezed to die in India because I was at station and get train with open windows at 4 Celcius degrees for 12 hours because my train which its cheap ticket about USD 2,3 from Agra to New Delhi was delayed

The point is employee with minimum income like me must be a little “crazy” to travel around the world. If your salary is good, you can stay in 5 stars hotels when traveling.

It’s easy concept……

3. No day without itinerary

Even I have made cheapest itinerary for my next 2 years trip.…crazy.

it isn’t easy to make an itinerary for the next 2 years

Good planning will help you to make cheapest trips.

4. Mark your time! You will know when you can travel

Make long weeked holiday list and note your leave time from a previous year. Flipping through a desk calendar has become my bad habit. Even though all long weekend holidays have been marked, I afraid if miss some holiday in calender

5. Visiting countries in similar region at a time.

The ideal way in planning a trip is visiting several countries in similar region at a same time. Why? Yes, because they are close together, they can be visited in one trip. For example, last year I visited Dhaka (Bangladesh), Mumbai (India), Colombo (Sri Lanka) and Maldives.

6. Connecting flight can save my money

If I booked many connection flight…It’s mean I don’t have a lot of money. Connection flight in this article mean travel through a lot of countries before reaching the main destination.

Direct flight are usually expensive … because of it….finally I also known as “connecting backpacker” by all of my friends.

For example: Next.…before arriving in Dubai, I will visit first to Kuala Trengganu and Kuantan (Malaysia) then to Kochi (India).…tired, but challenging.


Do you want to join?….hahaha

Do you ever go to Kochi, India?

7. Surely, saving your money….

I can save USD 300 in a year from my daily meals budget. This just one of many way that I do:

well.…start from bring self lunch menu and eat it in city park when I work

And this USD 300 can pay for cost of meals, hotels and venues for travel twice. Just imagine !, except tickets, I only spent USD 200 to visit to Penang, Ipoh, Dhaka, Mumbai, Colombo and Maldives for 15 days… how can I do?

Watch out, don’t follow it … you can get sick….hahaha

8. Traveling every second which you have.…this is the concept of travelingpersecond.com

I usually use every bit of time for exploration. after meet my clients and before back to office, I usually take 30 minutes to visit a museum. So all my office-friends called me “The King of Museum”. How come, all museums in Jakarta have been visited by me, until I was confused about which next destination can be visit.

This is a example …. after meet customer, I can stop by at “Tebing Keraton”, Bandung

9. Extending my time when get duty in other town.

Getting duty to other city on Friday until Saturday are fun because I can extend on Sunday.

extend to Nusa Kambangan while on assignment to Cilacap
going to the “Watugong Pagoda” when extending after on assignments to Semarang.…and get bonus to meet ex-college friend

10. Traveling during office events, of course

When Marketing Conference event or Year End Party one in my company agendas can be changed to be semi-traveling by me.

visit “Borobudur temple” in third time because of Year End Party event
“Triwindu Market” in Marketing Conference to Solo

11. Pursue a bonus trip from my company

The marketing division in several companies provides bonus trips …

Well, I will work hard to get it….No say to failed.…

The important thing is I can travel for free and don’t reduce my leave. My leave can be took for other trip.

“Lengkuas Island Lighthouse” when got bonus trip to Belitung


8th Singapore trip because of achieving the target
Big Buddha in Phuket … Free again

Lots of other tips that aren’t enough to mention here guys … be patient, yess…

Hopefully I will finish my first book soon……

So, those are all of my behavior in traveling

Let’s traveling, guys.…traveling don’t have to be expensive … yes, right.


Bus from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal, Ipoh, Malaysia

Finding information about tourist attractions in Ipoh through internet is very much and easy.

But via googling, I have never found a sure way towards Ipoh downtown from their main land-gate i.e Amanjaya Bus Terminal … that’s the point. That’s why, I feel the need to write this article and hopefully backpackers like me out there can find this article later on Google.

But I know that the hotel where I stay is located about 1 km east from a small bus terminal called Medan Kidd Bus Terminal, then I can walk from iterminal to Abby by the River Hotel for 15 minutes.

Finding a taxi is certainly very easy, just need to whistle a little then taxi will come to you. Because taxi isn’t in my backpacker dictionary, without adequate information, I had to found the city bus until I got it.

Worries was surely in me….worried about scams or worry if I couldn’t arrive on time at the hotel… but the show must go on … this is the thrilled if You do solo-traveling with minimal information .

“Perak Transit” bus which departed from Penang Sentral dropped me off on first floor of the Amanjaya Bus Terminal.

I immediately entered the intercity bus arrival hall. The seat lines which passengers waited for their bus became first view that I saw there.

I deliberately allocated about 30 minutes to explore the whole of Amanjaya Terminal.

Of course, I had to found information about city bus towards Ipoh downtown. Luckily I found the Amanjaya Bus Terminal information center on 1st floor, precisely in terminal lobby.

According to a female officer at this information center, city bus to Medan Kidd Terminal was located on 2nd floor and numbered T30a.

Didn’t want to long waiting because I was worried about being late, I immediately used escalator to get the closest bus departure time.

And finally I found the bus shelter

And this is a bus route from Amanjaya Terminal to several destinations in Ipoh:

Whereas this is schedule of Bus No T30a from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal:

My trip to downtown began by getting in MyBas T30a

Paid for USD 0,9 when entering front door, I was greeted with familiar smile by Indian driver.

There is something different about this MyBas service. When I am using buses in Kuala Lumpur and Penang (Rapid KL and Rapid Penang), if you pay more than fare, the change money willn’t be refunded. But when I use MyBas, which is operated by Perak Transit, I pay 5 Malaysian Ringgit (USD 1,3) then driver gives me the change money about 1.5 Malaysian Ringgi (USD 0,4)…. Fair and Good.

Indian songs accompanied my journey that afternoon. The bus briefly stopped to refuel near to Terminal Amanjaya.

During the trip I diligently paid attention to a Chinese female solo-traveler descent who always pay attention to her google maps. Surely he also has lacks information like me.…hehehe.

Here are some views during my trip to downtown:

In 40 minutes, MyBas finally arrived at Medan Kidd Terminal

I didn’t wait long at Medan Kidd terminal because I had to immediately go to Hotel for check in then get around the city.

I noticed again this female solo-traveler who looked confuse at terminal. I took a time to ask where was he going, but She said that She would go to downtown by a taxi. I offered myself to walk together but it seems like She didn’t believe.…haha. A look like me really seems suspicious….wkwkwk. Well the important thing is that I have tried to offer kindness.

I decided to immediately walk along Ipoh’s pedestrian walkway.

Walk down this road to Abby by the River Hotel

I had to stop several times because of light rain pouring down Ipoh at that time. And finally in 30 minutes I arrived at Abby by the River Hotel.

Checked-in, paid, put my backpack in the room … then I explored around downtown until evening. Finally I can cross out one destination in my bucket list.