Tokunai Pass….Senjata Utama para Traveler di Tokyo, Jepang

Berhasil berpindah dari Narita International Airport ke pusat kota Tokyo menggunakan moda transportasi termurah yaitu Keisei Expressway Bus seharga 1.000 Yen (Rp. 130.000) jangan membuat hati senang dahulu. Karena masalah selanjutnya muncul yaitu “Bagaimana menjelajahi kota dengan hemat?”

Jawabannya mudah. Saya harus segera mendapatkan Tokunai Pass (Tokyo Metropolitan District Pass).

Setelah turun dari Airport Bus, Saya bergegas masuk ke dalam Stasiun Tokyo untuk mendapatkan kartu pass itu. Tentu Saya harus menuju Mesin Tiket Otomatis. Pertama kali bingung mencari menu Tokunai Pass di mesin itu. Setelah segala tombol dipencet ternyata menu Tokunai Pass berada pada directory “Discount Card”. Gampang kok menggunakan mesin ini karena ada pilihan bahasa yang bisa digunakan (tentu Bahasa Inggris yang Saya gunakan).

Ticketing Tokyo n Shibuya Gate

Kiri: Mesin tiket otomatis di Stasiun Tokyo tempat Saya membeli Tokunai Pass

Kanan: Gate di Stasiun Shibuya dimana Tokunai Pass bisa digunakan sebagai akses masuk ke peron kereta.

Tokunai Pass berharga 750 Yen (Rp. 97.500) dan bisa digunakan hingga pukul 24:00.  Jadi untuk memaksimalkan keuntungan penggunaan Tokunai Pass, usahakan Kamu membelinya dari pagi hari dan menggunakannya seharian untuk keliling Tokyo.  Saya sendiri baru membelinya pada pukul 13:00 dan menggunakannya hingga pukul 21:00.

Tokunai Pass

Kiri: Tokunai Pass

Kanan: Struk pembelian Tokunai Pass.

Lalu seberapa hemat ketika Saya menggunakan Tokunai Pass ini. Begini perhitungannya:

Apabila Saya menggunakan tiket ketengan ke beberapa tempat yang Saya tuju berikut:

  1. Menuju Yadoya Guesthouse di Nakano. Tiket kereta Stasiun Tokyo – Stasiun Nakano sebesar 220 Yen
  2. Menuju patung Hachiko dan perempatan Shibuya. Dari Yadoya Guesthouse di Stasiun Nakano menuju Stasiun Shibuya 200 Yen
  3. Menuju Ameyoko Market. Dari Stasiun Shibuya ke Stasiun Ueno 190 Yen
  4. Menuju pasar elektronik. Dari Stasiun Ueno ke Stasiun Akihabara 160 Yen
  5. Menuju Harajuku Street. Dari Stasiun Akihabara ke Stasiun Harajuku 170 Yen
  6. Pulang ke Guesthouse. Dari Stasiun Harajuku ke Stasiun Nakano 220 Yen

Total Keseluruhan 1160 Yen (Rp. 150.800)

Karena Menggunakan Tokunai Pass seharga 750 Yen jadi Saya sudah berhemat 410 Yen (Rp. 53.300).

Itu baru perjalanan selama 8 jam, coba kalau Saya tiba di Tokyo lebih pagi pasti akan bisa mengunjungi banyak tempat dan bisa berhemat lebih banyak lagi.

Selama menggunakan Tokunai Pass, Saya hanya menggunakan dua jalur JR Line yaitu Yamanote Line (merupkan circle linenya Tokyo) yang merupakan jalur tersibuk di pusat kota Tokyo dan Chuo Line yang menghubungkan Tokyo di pusat kota dan Otsuki 90 km di sebelah barat Tokyo.

Tokunai Pass bisa di beli di mesin tiket otomatis di seluruh stasiun JR Line. Dan Pass ini bisa digunakan untuk seluruh jaringan kereta JR Line lokal (dalam kota Tokyo) yang relnya terletak di atas permukaan tanah layaknya komuter Jabodetabek.

Selamat mencoba menggunakan Tokunai Pass kalau Kamu sudah tiba di Tokyo, guys…..

 

 

 

 

 

 

Makanan Murah untuk Backpacker di Jepang.

Jepang memang sudah saya setting menjadi destinasi puncak di kawasan Asia Timur, setelah setahun sebelumnya berhasil menapakkan kaki di Hong Kong, Macao dan Shenzen.

Buat seorang backpacker yang concern dengan budget seperti saya, Jepang menjadi tempat mahal yang perlu banyak disiasati walau hanya sekedar 4 hari menjelajahi daya magis Jepang yang membuat para traveler terkesima akan negeri itu.

Masalah hotel sudah tersiasati dengan menginap gratis semalam di Kansai International Airport dan mendapatkan dormitory murah di Yadoya Guesthouse (di daerah Nakano) dan Kaga Hotel (di kota Osaka).

Masalah transportasi juga tersiasati dengan kartu ajaib Tokunai Pass di Tokyo dan One Day Pass di Osaka.

Nah, kali ini saya akan membahas bagaimana mensiasti cara makan di Jepang yang pernah saya lakukan untuk menghemat budget. Saya sengaja melakukan ini karena harus banyak berhemat dan banyak menabung demi niat mengunjungi berbagai belahan dunia dalam jangka Panjang misi backpacker saya.

Menu Makan Siang

Ketika tiba di Narita International Airport pukul 11:15 maka lunch adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi. Sudah tidak memungkinkan menunggu lunch hingga ke tengah kota Tokyo. Setelah keliling Arrival Hall Narita, melihat beragam harga yang begitu mahal di food court setempat, akhirnya Saya mendorong langkah kaki untuk masuk ke Lawson. Memang banyak beberapa pilihan murah onigiri, tetapi satu buah onigiri tentu tidak mampu membendung porsi wajar makan siangku. Akhirnya inilah pilihan terbaik yang Saya ambil untuk menu siang kala itu:

Lunch at Narita

Dua onigiri beserta menu pendamping seharga 248 Yen atau sekitar Rp 32.240 cukup membuat kenyang perut siang itu.

Menu Makan Malam

Cara berfikir saya sederhana ketika sedang backpackeran. Saya akan makan tepat waktu untuk menghindari sakit selama perjalanan. Dan dimanapun saat itu berada dan ketika waktu makan tiba maka Saya akan berusaha mencari makan terhemat disekitar tempat itu. Tidak perlu kembali lagi ke tempat tertentu untuk menyantap sebuah makanan….keburu lapar…hahaha

Makan malam ini terjadi ketika Saya sedang menikmati keriuhan Ameyoko (Ameya Yokocho) Market di dekat stasiun Ueno. Ketika lapar sudah tak tebendung akhirnya Saya mulai menyisir menu di sekitar pasar ini. Banyak orang Turki yang membuka kedai kebab di daerah ini, tetapi sepertinya kurang nendang kalau hanya sekedar makan kebab.

Dinner di suhu 4 derajat Celcius akan lebih enak jika makan mie berkuah panas seperti ini:

Dinner at Yokoco

Cukup merogoh kocek 398 Yen atau sekitar Rp. 51.740 dapat bonus air es seteko yang akhirnya Saya habiskan….bisa membuat tidur malam itu begitu nyenyak…hahaha

Menu Sarapan

Sarapan ini Saya beli di sekitar Yadoya Guesthouse di Nakano, tempat dimana Saya menginap selama di Tokyo. Berjalan di sekitar restoran rumahan Tokyo yang menawarkan menu relatif mahal buat kantongku. Akhirnya Saya menemukan Family Mart di dalam perkampungan. 10 slice onigiri inilah yang menjadi menu pagi itu

Breakfast Nakano

Cukup membayar 298 Yen atau sekitar Rp. 38.740. Cukup buat modal keliling Tokyo di hari kedua selama 6 jam kedepan.

Menu di Amerikamura, Osaka

Sehari setelahnya, menginjakkan kaki siang itu di Amerikamura mengharuskan Saya membeli makan siang sebelum meninggalkan kawasan itu untuk menuju Namba Parks.

Begitu susah mencari makan murah disini, tetapi akhirnya Saya mengambil jalan tengah untuk mengambil menu di rumah makan rumahan warga Jepang yang menjual menu makanan khas Thailand.

Inilah pilihan saya :

Lunch Amerikamura

Sedikit mahal karena harus mengeluarkan 680 Yen atau sekitar Rp. 88.400. Karena tidak ada pilihan murah yang lain. Tapi ini porsinya sangat banyak untuk ukuran orang Indonesia…..Saya sampai tidak bisa bernafas karena kekenyangan.

Nah buat kalian yang mempunyai budget minim tidak perlu khawatir mengunjungi negeri matahari terbit ini. Selalu ada solusi asalkan jeli melihat kondisi di tempat tujuan.

Mari Kunjungi Jepang, teman……

Cruise Singkat “Singapore of Java”, Cilacap-Indonesia

Tepat jam 19:00 Kapal Motor Jaya Sakti bergerak menginggalkan Pelabuhan Sleko dan melakukan cruise singkat selama 2 jam. Cruise berikutnya dengan kapal lain menyusul sekitar jam 20:00 sehingga kedua kapal ini akan berpapasan di laut.

Kapal akan bergerak ke arah selatan dari Pelabuhan Sleko. View pertama yang akan ditemui adalah kapal batubara yang sedang bersandar untuk keperluan bongkar muat.

Kapal Batubara

Kapal Batubara “Putri Sejati”.

Kemudian setelah melewati kapal ini, Gw bisa melihat bangunan milik PT. PUSRI:

Gula rafinasi

Unit Pengantongan Pupuk PT. PUSRI Cilacap

Di area sekitar sini juga tercium bau harum dan wangi, ternyata di belakang bangunan milik PT Pusri ini terdapat pabrik gula rafinasi yang merupakan asal muasal aroma harum yang Gw cium.

Kemudian kapal sempat melewati area eksekusi Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan yang tidak terlihat karena gelap gulita. Kemudian Kapal akan memutar arah dan bergerak menuju ke utara. Setelah melewati titik awal keberangkatan Penumpang akan disuguhkan Depot LPG Cilacap:

Depot LPG Cilacap

Depot LPG bersebelahan dengan kilang minyak PERTAMINA.

Kilang Pertamina

Kilang Minyak Cilacap milik PERTAMINA.

Di kilang minyak PERTAMINA inilah kapal akan berjalan sangat pelan, karena spot inilah yang tercantik diantara yang lain. Nahkoda juga memberi kesempatan kepada penumpang untuk mengambil foto sepuas mungkin.

Setelah selesai dengan spot ini maka berakhir pula cruise ini dan kapal segera kembali ke Pelabuhan Sleko.

Ya….itulah alur perjalanan cuise ini.

Perlu diketahui bahwa “Singapore of Java” Cruise ini adalah tur singkat malam minggu di Cilacap dengan frekuensi 2 minggu sekali. Cruise dimulai dari Pelabuhan Penyeberangan Sleko pukul 19:00 dan perahu akan berangkat setiap 1 jam. Cruise ini adalah ide dari Bupati Cilacap yang bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Cilacap. Dinamakan tour Singapore of Java karena view dari cruise ini mirip dengan salah satu sudut Singapore di saat malam.

Cruise ini sudah populer di Cilacap sehingga kapal biasa di carter oleh komunitas tertentu sehingga pengunjung perseorangan seperti Gw sering kehabisan bangku.

Gw sendiri beruntung bisa ikut cruise ini di pertengahan Maret 2018. Saat itu perahu sebetulnya sudah dibooking oleh komunitas gereja dari Solo, Jawa Tengah.

Tetapi karena malam itu adalah malam terakhir Gw di Cilacap, maka Gw tidak akan menyerah untuk bisa ikut cruise ini. Gw dengan gigih melobby staff penjual tiket Kapal Motor Jaya Sakti untuk bisa menjual 1 bangku tambahan buat Gw bagaimanapun caranya.

Dengan memelas, Gw bilang bahwa Gw datang dari Jakarta dan ini adalah malam terakhir berada di Kota Cilacap, maka si Ibu mulai terlihat kasian sama Gw dan setelah dia bicara dengan nahkoda kapal akhirnya Gw diperkenankan ikut cruise ini tapi harus berada di bagian belakang dekat petugas pengatur jangkar kapal karena tidak boleh mengganggu bangku yang sudah dipenuhi oleh komunitas gereja itu.

Dengan membayar Rp. 30.000 akhirnya Gw masuk ke kapal tanpa memegang tiket karena memang sebenarnya tiket sudah sold out…..Great Job, senang menjadi bagian dari cruise ini.

KM Jaya Sakti

Kiri Atas: Konter tiket Kapal Motor Jaya Sakti.

Kanan Atas: KM Jaya Sakti bersiap untuk berlayar

Kanan Bawah: Suasana lantai pertama kapal.

Kiri Bawah: Pemandangan dari kejauhan.

 

 

 

7 Hours Enjoy Beauty of Kuala Lumpur, Malaysia

It was sad If I met European tourists, because they had long leave schedule. When they asked to me about my leave duration…. yes, exactly just 12 days ….. I sad…. hahaha.

But I never give up …. with my little time I will be around the world.

Back to time matter …. Every I had short transit when abroad, I often spent time to short exploration to the city that I had transit.

This article also tells how I spent 7 hours in Kuala Lumpur down town between 10:00 – 17:00

1. Batu Caves.

The journey started from 10:30 am from KL Sentral. Using the combination of KTM 1 free bus and Sentul – Batu Caves commuter train.

KTM KOMUTER

Left: Free bus KTM1 (KL Sentral-Sentul Station)

Right: Commuter train (Sentul Station – Batu Caves Station)
on 12:06 I arrived at Batu Caves. It was second time I visited it. Nothing had changed since 4 years ago, there were only some renovations in some parts of temples.

Batu Caves

Top Left: Hanuman Statue

Top Right: I didn’t know what is the temple name…. it was precisely behind Hanuman statue

Bottom Right: Venkatachalapathi Temple

Lower Left: Murugan Statue

My trip in Batu Caves Gw was closed by lunch time at Dhivya’s Café – an Indian food stall on the front yard of Batu Caves -. I ate fried rice for 4 Ringgit.Dhivya's cafe

2. Petronas Twin Tower

At 14:42 I arrived at KL Sentral, I was using the same lane and mode of transportation when I was heading for Batu Caves. From KL Sentral I moved with LRT Kelana Jaya Line for 2.4 Ringgit and finally I arrived at KLCC (Kuala Lumpur City Centre). I was out through Ampang Street KLCC Exit Gate. And finally I found Petronas Twin Tower.

The stinging heat of sun required me to took some photos of twin building when clouds were blocking the sun. When clouds have moved avoid the sun then I took shelter under the trees in front yard of twin building. Many tourists saw my oddity…. hahaha

 

Suria KLCC

Top Left: KLCC Exit gate to Ampang Street

Top Right: Ampang Street

Bottom Right: Suria KLCC mall is adjacent to Petronas Twin Tower

Bottom Left: Petronas Twin Tower.

After took some photos of Twin Tower and surrounding landmarks, I immediately moved to Pavillion in Bukit Bintang using GOKL City Bus.

3. Pavillion Bukit Bintang

Using the free GOKL bus, I had opportunity to revisited Pavillion, Bukit Bintang at 16:18. Easter theme made decorations in Pavilion courtyard was very eye-catching.

Pavillion2

Top Left: Fountain in front of Pavillion

Lower Left: Sephora Mall …. Cosmestic and skincare centre at Bukit Bintang

Central: Five star hotel JW Marriot Bukit Bintang

Right: Easter theme in the front of Pavilion

I was only 20 minutes in Pavilion and I wanted to went to Petaling Street at Pasar Seni soon. 

4. Petaling Street

Going to Petaling Street, Pasar Seni, I used again GOKL free bus. On 16:53 I arrived at Pasar Seni terminal.

I just asked to local people around Pasar Seni to showed Petaling Street directions. A middle-aged nicely man pointed to me the way to got there. By walking towards Petaling Street, My eyes swept Pasar Seni situation that had changed better than 2014. In 7 minutes I reached Petaling Street.

petaling street

Top Left: Pasar Seni MRT Station

Top Right: Petaling Street front gate

Bottom Right: Petaling Street inside

Bottom Left: Street situation in front of Petaling Street gate

Petaling Street didn’t crowded yet because I came there around 5 pm, traders were getting ready with their wares. I just bought keychains here.

And Petaling Street became last destination on this trip. Because I must prepare to flied to Singapore.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengunjungi Kesederhanaan Phnom Penh, Kamboja (Part 1)

6 Januari 2015

Phnom Penh Route2

Kamboja atau Cambodia, boleh dibilang ini adalah titik awal keseriusan Gw menjadi backpacker. Dan trip ini adalah menjadi trip parallel pertama Gw karena sebelum mengunjungi kamboja gw mampir di Singapura dan setelah kamboja Gw akan mengunjungi Vietnam dan ditransitkan sekali lagi oleh maskapai Tiger Air di Singapore sebelum pulang ke Jakarta.

Gw masih inget banget, beli tiket Jet Star di agent resminya karena Gw belum punya kartu kredit.

Setelah hari sebelumnya transit dan keliling Singapore, Pukul 13:25 Jet Star 3K 593 take off meninggalkan Changi International Airport dari Terminal 1. Gw landing dengan baik di Phnom Penh International Airport.

konter imigrasi phnom penhKonter imigrasi Cambodia….Gw memalukan….dimarahin petugas imigrasi karena ambil foto ini….Gw ga lihat ada tanda “no camera”

Tahun 2015, Cambodia baru pertama kalinya memiliki tranportasi umum bus. Pemerintahnya membeli beberapa bus bekas dari Jepang. Dan di setiap halte bus sering dijaga oleh militer bersenjata mereka. Sebelum mereka memiliki bus, transportasi umum mereka adalah Tuk Tuk dan Taxi.

Singkat cerita, Gw lebih memilih Tuk Tuk, karena hasil browsing gw sebelum trip ini berjalan menyatakan belum ada rute bus ke airport.

100_2109

USD 10….muat 5 orang….jalanan berdebu…40 menit menuju ke pusat kota.

Gw minta pengemudi Tuk Tuk untuk diturunkan di dekat National Museum, kerana rute sepanjang National Museum menuju dormitory akan melewati beberapa venue menarik. Jadi sembari jalan ke arah dormitory Gw akan berjalan melihat venue-venue itu. Oh ya kali, selama 2 jam Gw akan jalan sejauh 2 km sambil menikmati suasana dan mengambil beberapa foto menarik.

National Museum

Jalan kaki di Phnom Penh dimulai dari titik ini….National Museum.

Kingdom Square

Dari National Museum jalan kaki 350 m ke arah tenggara akan ketemu Royal Palace Park

Pertigaan

Nah itu City Courthouse….Pengadilan Negeri nya mereka….300 m di selatan Royal Palace Park

Taman yang menghubungkan alun-alun kerajaan dengan independent monument bernama Wat Botum Park.

Taman sepanjang 500 m ini sangat ramai saat sore. Dari warga yang sekedar nongkrong menikmati senja atau warga beroleh raga…., olah raga khas kamboja. Ada juga beberapa ekspatriat mengajak anjingnya jalan-jalan atau beberapa warga yang menikmati sajian kuliner jalanan yang murah meriah.

Taman arah hotel

Aktivitas

aktivitas warga di sekitar Wat Botum Park

Di ujung taman ini akan bertemu jalan Preah Suramarit Boulevard lalu Gw berbelok ke kanan. Berjalan sejauh 350 m Gw menemukan patung Raja Norodom Sihanouk -pemimpin legendaris Cambodia-.

Sihanouk

Gw duduk di Statue of Father King Norodom Sihanouk

Dari patung ini, Gw jalan lagi lurus ke barat. dan kemudian akan ketemu Monumen Kemerdekaan mereka. Monasnya mereka lah kalau boleh dibilang. W

Independence

Independence Monument

Dari Independence Monument gw inget-inget sewaktu di Jakarta bahwa Gw harus jalan ke barat dan belok kekiri di gang kedua dari jalan utama Preah Sihanouk Boulevard. Tuh kan ketemu dengan cepat….

Top banana2

Dormitory bed di Top Banana Guesthouse & Rooftop Bar seharga IDR 60K/malam

Ketika memesan di Booking.com, Gw tidak begitu yakin dengan kenyamanan guesthouse ini. Tetapi setelah sampai di Negara tujuan ternyata guesthouse ini melebihi ekspetasi Gw. Keren banget lah nih guesthouse. Tau aja kita haus ada segelas air es welcome drink dan Gw dijamu di ruangan bar mereka sambil check-in. Malemnya bar ini ramai sampai pagi hari.

Di dormitory ini Gw sempat berkenalan akrab dengan Sam-seorang muslim Australia serta turis dari Belanda dan Perancis.

Setelah beres-beres dan mandi, kita mulai malam dengan mencari makan malam. Pilihan Gw jatuh pada makanan tradisional mereka….ini diaaa:::

amokAmok….adalah sejenis masakan ikan yang dituangkan dalam santan dan dituang dalam batok kelapa muda yang masih ada kelapanya.

Makanan ini berharga USD 5 dan setelah makan malam Gw putuskan untuk segera tidur, mengingat besok akan jalan pagi hari lagi bahkan sorenya akan berpindah ke Ho Chi Minh, Vietnam.

Perjalanan hari ke-2 di Cambodia akan Gw lanjutin di artikel berikutnya ya…….

8 Venues Around Malacca Dutch Square, Malaysia

Here are sights that can be found in Dutch Square, Malacca, Malaysia.

Venue Sekitar Clock TowerThis map is a 360 degree spot where you can see several venues directly without moving

1. Bus Dropping Point

March 17th, 2018. My travel reached Malacca Dutch Square already told in article “Bus from KLIA 2 to Malacca, Malaysia”.

Panorama Bus No 17 from Melaka Sentral drop me here:

Drop from the BusTourism buses and city buses drop off passengers here.

Because this point is a crowdest point, so many police standby here to make sure cars or buses don’t stop too long here.

Resident names this area as Bangunan Merah. So you just say to bus driver “drop me at Bangunan Merah “. All colours are red, from building wall until brick road.

2. Malacca Clock Tower.

After getting off the bus, first stands out is the tall red tower. This tower is known as Malacca Clock Tower. It has three tiers of building with big clock on all four sides. The tower was built by a Chinese Malaysian millionaire.

Clock Tower

132 years old, this building still looks sturdy

3. “I Love Melaka” Spot

I Love Melaka

Queue for long time here …. the queue was always snatched by  impatient tourists…. 

It is located below of Malacca Clock Tower and it’s always be a tourists target for picture hunting. Taking picture in this spot, can prove that you are in Malacca.

4. Queen Victoria Fountain

This fountain was built to commemorated the 60 years of Queen Victoria holding the throne of British Kingdom. The construction was done 4 years after 60 years of Queen Victoria became king i.e in 1901.

Victoria Regina fountain2Arguably this is a original trace of British Colonial in Malacca.

5. History and Ethnography Museum

This building is a Dutch Colonial relic. Was built in mid-17th century, this building was once used for Dutch government buildings in Malacca. The original name of this building is Stadthuys and it’s a mark of Portuguese conquest by the Dutch in Malacca.

stadhyus

6. Malacca Christ Church

Goverment strategically, Christ Church was built to commemorate centenary of Malacca conquest from Portuguese Colonial by Dutch one. But functionally, Christ Church was built because the active church was very old at that time. That’s St. Paul Church on St. Paul hill.

Christ Church

Numer 1753 above church building shows the year of construction

7. Balai Seni Lukis Melaka (Malacca Art Gallery).

This two-tiers building is used for 2 different museums. The first floor is used for Muzium Belia Malaysia (Malaysia Youth Museum), while the upper floor is used for Balai Seni Lukis Melaka (Malacca Art Gallery). 

Balai Seni Lukis MelakaAD 1931 …. In that year the building was originally an Anglo-Chinese school building.

8. Malacca Dutch Square Windmill

Windmills has size less than 1/10 of normal size. It was also built as a mark of Portuguese conquest by the Dutch. Such as the historical function of Stadthuys.

dutchmil

9. Melaka 0 Mile

It is the center of Malacca. So all distance in Malacca city is measured from this point.

Melaka 0Km

Okay …. other spots in Malacca city, I will tell in next article ….

 

 

Visiting Phnom Penh, Kamboja (Part 2)

January 7, 2015

After spent a night at Top Banana Guesthouse & Rooftop Bar, I could enjoy morning situation at Phnom Penh around guesthouse.

Situasi sekitar guesthouse

Quiet in the morning around guesthouse

After  took a bath  and packing, I had breakfast at guesthouse bar:

Bar Top BananaJust chose your food or drink…. many menu here

No more wasted time, I rushed to venues. I would visited two main venues in Phnom Penh. My limit time was 14:30, it was time for Mekong Express Bus would departed from Phnom Penh, Cambodia to Ho Chi Minh City, Vietnam.

For saved my time, I decided to hired a Tuk Tuk service for USD 20 for visited two venues and the last one it would deliver me to Mekong Express bus shelter. For information, initially Tuk Tuk driver offered USD 25 for his service, but I could bid the price until USD 20.

Okay trip began…. Tuk Tuk moved to south as far as 17 km. After passed dusty road for 45 minutes, I arrived at:

1. Choeung Ek Genocidal Center

100_2199The gate

100_2198Building where victims’ skulls, tools were used for massacre, some remaining Khmer Rouge soldier uniforms and victim’s clothes were stored

This was Cambodian massacres location. It did by their own leader, Pol Pot. According to data from here, it said that 1 of 4 Cambodians were killed by Pol Pot.

Ticket fee was USD 3. You would get a headset that provided various language options to hearing an explanation of each spot you would visit. And I chose Malay language language to easily understood history of the place.

100_2164Each visitor would focus with their headset. Some of them were sobbing crying alone

Even I saw Australian sobbing cried because they heard that a Australian became a victim at that moment.

Killing Fields2

In every spot would be provided audio number and you must adjusted with  number on remote that you held.

Killing Fields3Victims were found in mass grave.

Killing Fields4Khmer Rouge forces set musics loudly on this tree to covered sounds of torture and slaughter

Killing Fields5

Remains of victim’s bones and teeth were often seen during rainy season.

I can’t told one by one guys ….. Hopefully you who haven’t gone yet, would get a chance to visited it later.

After got around it almost 1.5 hours, I thought that was lost my Tuk-Tuk driver. I looked for him and  I didn’t remember where he was waiting. After 15 minutes finally I met him. For you, better you made appointment where you can met him after sightseeing.

Next destination was at north as far as 12 km and tuk-tuk could reach it for 30 minutes. Here was the place:

2. Tuol Sleng Genocide Museum 

Tuol Sleng1Front of former school was made a museum by  government of Cambodia.

Museum ticket fee was USD 3. It was victim’s temporary shelter before were executed at Choeung Ek Genocidal Center. During waiting period, prisoners would be forcibly employed by Khmer Rouge government. Victims were generally opposed on thinking and idealism with Khmer Rouge government under Pol Pot’s leadership.

Tuol Sleng4

Touched to saw mother’s face and her child, they were both potential victims who newly entering in jail and were recorded their identity.

Tuol Sleng3

Prison and cuffs for them

The prison were surely identical with torture. But I didn’t need to showed picture of it….I wasn’t strong for saw it.

At last part of museum, there were several booksellers about Pol Pot and story of some survivors from this tragedy although they were scheduled for execution.

Okay …. time got closer to 14 o’clock. It was time for me to went to Mekong Express pool for trip towards Ho Chi Minh, Vietnam.

The bus shelter was 5 km north of museum. It took 20 minutes to got there. Even tuk tuk driver didn’t know where Mekong Express shelter location. I tried to showed location on map, he still didn’t understand. Finally I asked to residents and one of them finally knew and showed where it was located to him.

When arrived, tuk tuk driver asked for more tip USD 2. Yes. I gave him 

100_2240

Mekong Express office on National Highway 5. I could see several destination cities.

When entering Mekong Express office …. Their staff confidently served me with spoke Khmer…. I was speechless …. She asked me three times. I just said that I was a tourist and had booked seat by email while showing a passport. She laught and apologized to me. She said my face like Cambodian… Cause of it we were be familiar.

Mekong Express Email

Ticket that I booked from Jakarta for USD 14 / passenger

 


While w
aiting for bus that would depart 1 hour later. I decided to had lunch at stall across street in front of bus shelter. I ate fish soup with rice for USD 1 …. very cheap.
After finished, I went to Vietnam.

Mekong Express

Bus ready departed

I even relaxed in front of shelter. Though bus was on boarding time behind it. I thought bus would be boarding in front of the shelter. When I got into bus…. staff who handled boarding said …. “Where are you, I look for you to boarding”, while smile and patted my shoulder …. “” I’m sorry mam. ..I’m at the front “.

My trip went left Phnom Penh and towards Ho Chi Minh will tell in separate part…..