Melawan Gelisah di Cochin International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Sebuah kekhawatiran hadir seiring dengan kesigapan cabin crew Air Asia AK 39 yang sibuk memeriksa segenap penumpang sebagai pertanda bahwa selongsong terbang merah akan segera merapat di runway Cochin International Airport.

Enam roda Air Asia genap menyentuh landasan menjelang pukul satu dini hari, sementara isi kepalaku masih dijejali banyak tanya.

“Apakah di dalam bandara nanti ada ruang tunggu penumpang setelah konter imigrasi?”

Jika tak ada fasilitas itu, apakah benar aku harus menunggu di luar bangunan bandara hingga matahari bangun menerangi Kerala?

Ataukah aku harus menjalankan Plan B dimana aku akan tidur sembari duduk di sebuah restoran di luar bangunan terminal bandara?”….Ya, itu rencana terakhirku apabila tak ada ruang tunggu di dalam bandara pasca menyelesaikan urusan imigrasi.

Sudahlah, aku sudah bersiap diri atas semua kemungkinan….

Pramugari berparas cantik khas India itu tersenyum sembari memberi tanda bahwa penumpang sudah aman untuk meninggalkan kabin. Aku pun melangkah di sepanjang lorong kabin dengan penuh percaya diri.

Melongok Arrival Hall

Menyusuri aerobridge berbahan non-kaca membuatku tak bisa menikmati suasana di sekitar apron. Karena biasanya aku akan berdiri di salah satu sisi aerobridge dan mengambil beberapa gambar aktivitas unloading di sekitar pesawat. Tetapi aku toh masih beruntung karana diarahkan melalui koridor arrival hall berdinding kaca, kufikir kaca-kaca itu cukup lebar dan membuatku bisa menikmati penampakan bandara yang menghadap ke arah landas pacu.

Koridor awal Cochin International Airport Terminal 3.
Area Duty Free sebelum konter imigrasi.
Area baggage conveyor belt.
Yuk, intip toiletnya….Bersih loh…

Aku menatap arrival card delapan isian yang diberikan pramugari beberapa saat sebelum mendarat sembari terus bergegas menyusuri lantai tanpa karpet hingga tiba di konter imigrasi.

Bodoh….”, aku menyumpahi diri sendiri yang ternyata telah kehilangan pena satu-satunya untuk mengisi kartu kedatangan tersebut. Di meja-meja tempat penumpang asing mengisi lembaran itu pun tak terlihat satu pun pena yang bisa digunakan.

Alhasil, aku harus kesana kemari meminjam pena ke penumpang yang telah selesai mengisi arrival card. Tak segan, beberapa penumpang tampak mengacuhkanku dan memilih menolak dengan alasan karena terburu-buru.

Tetapi sebuah kejadian tak disangka pun hadir….Penumpang pria yang duduk di sebelahku pada sepanjang penerbangan tadi datang menghampiri….

For you….Just keep it”, dengan aksen India dia tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Thank you, Sir…”, aku berujar….Dan entah, kepalaku pun ikut fasih menggeleng-geleng khas gelengen India.

Happy traveling….”, dia tersenyum dan melangkah pergi meninggalkanku untuk segera bergabung dengan rombongan jama’ah dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang tampak mulai merangsek menuju meja imigrasi.

Meja?

Yups, inilah konter imigrasi terunik yang pernah kudapati.

Di Cochin International Airport, konter imigrasi bukanlah berbentuk konter-konter berdiri, melainkan konter yang secara setting mirip sekali dengan meja wawancara. Setiap pendatang asing akan didudukkan di depan opsir imigrasi dan diinterogasi dengan beberapa pertanyaan. Menegangkan tetapi bagiku lebih menonjol sisi keseruannya.

Aku mengeluarkan passport, eVisa dan Hotel eBooking Confirmation ketika menunggu seorang perempuan Eropa diinterogasi di meja imigrasi. Seusainya, maka aku dipersilahkan untuk duduk dan mulai diinterogasi oleh petugas.

Dua petugas bersiap menanyaiku di konter, satu duduk menghadap laptop dan satu lagi berdiri.

Begitu menyerahkan dokumen, seorang petugas yang duduk menghadap laptop segera berseluncur mencari informasi mengenaiku di database imigrasi mereka.

Petugas imigrasi: “Mr. Donny Suryanto?. If yes, you’ve visited India once, haven’t you?

Aku: “Yes, Sir. New Delhi and Agra. Beautiful cities in your country”.

Petugas Imigrasi: “How long will you visit Kochi?

Aku: “Two days”.

Petugas imigrasi: “Oh, just two days. Why?

Aku: “This is just transit trip to get a cheap flight to Dubai, Sir. Cause I’m a backpacker, Sir

Petugas imigrasi: “Clever…No matter for a very short vacation. Happy traveling, Mr Donny

Aku: “Thank you, Sir”.

Aku sangat cepat dan mudah melewati tahapan interogasi di konter imigrasi Cochin International Airport tersebut. Kini aku bergegas dan melenggang melewati pemeriksaan customs dan dengan mudah tiba di exit door.

Begitu riang hati ketika di hadapan sana terlihat satu blok kecil tempat duduk.

Yeaaa….Aku akan menunggu pagi di deretan kursi itu”, kekhawatiranku sirna sudah.

Ini dia kursi tunggunya.
Di sisi kanan itulah tempatku menukar Dollar.

Tetapi sebelum benar-benar duduk, aku mulai berburu mata uang Rupee untuk keperluan selama mengeksplorasi Kochi. Aku merapat ke konter penukaran mata uang asing milik Thomas Cook Change Currency.

Aku: “What is the minimum Dollar which can be exchanged here, Sir?

Petugas konter: “100 Dollar, Sir

Aku: “Oh, I’m sorry, I just need to change a few dollars into Rupees

Petugas konter: “No Problem, Sir

Aku meninggalkan konter itu untuk menuju konter lain yang bisa melayani penukaran di bawah 100 Dollar Amerika. Akhirnya aku bisa menukarkan 5 Dollar Amerika dan 5 Ringgit Malaysia untuk mendaptkan 320 Rupee di Weizmann Forex Money Exchange. Rupee sebanyak itu bahkan akan bersisa untuk dua hari petualanganku di Kochi nanti. Murah banget kannnn?…..

Sementara untuk akses komunikasi aku memutuskan menggunakan SIM card keluaran Airtel 4G. Karena aku membelinya seusai menukarkan Dollar Amerika, maka aku membeli SIM card berkuota 3GB tersebut menggunakan selembar 5 Dollar Amerika.

It need four hours to activate your card”, begitu ucap si penjual kepadaku begitu aku meninggalkan konter telekomunikasi itu.

Walau pada akhirnya, nantinya SIM card yang kubeli itu tak akan pernah bisa kuaktifkan sepanjang petualangan mengeksplorasi Kochi….Sial.

Sejumlah Rupee sudah di tangan dan akses komunikasi sudah di genggaman, kini aku bisa duduk di deretan bangku yang kosong di ujung terakhir arrival hall. India memang terkenal dengan udara dinginnya di bulan Januari, jadi aku merasa bersyukur bisa menunggu datangnya pagi di dalam ruangan bandara.

Masih setengah tiga pagi ketika aku terduduk di salah satu bangku…..

Selama lima jam lebih waktu tunggu, aku hanya bisa menyaksikan kedisiplinan seorang tentara yang menjaga entrance gate menuju area di dalam bandara. Petugas itu tak pernah lelah mengkombinasikan gerakan duduk dan berdiri berjam-jam untuk memerikasa lalu lalang staff bandara, ground staff maskapai dan petugas-petugas lainnya ketika keluar-masuk dari dan ke area dalam bangunan bandara.

Atau menyaksikan ritual khas ketika beberapa penjemput  menempelkan telapak tangan ke kaki orang yang dijemput sebagai bentuk penghormatan. Selebihnya aku tak pernah bisa sempurna memejamkan mata dalam kursi tunggu itu.

Begitu seterusnya, hingga tepat pukul delapan pagi, aku memutuskan keluar meninggalkan ruang tunggu demi menuju Hotel Royal Wings yang berlokasi 1,3 Kilometer di barat bandara.

Seperti biasa, sebelum aku benar-banar meninggalkan area bandara, kusempatkan diri untuk mengeksplorasi segenap sisi di luar bangunan bandara. Berikut beberapa spot di Cochin International Airport yang bisa kuperlihatkan kepada kalian.

Cloak Room di sebelah barat exit door Terminal 3.
Drop-off zone.
Selasar kedatangan
Jika tak ada kursi tunggu di dalam bangunan bandara, rencananya aku akan menunggu di Chili Restaurant itu yang buka 24 jam.
Car parking area.
Keanggunan Cochin International Airport yang terletak di Aerotropolis Nedumbassery..
Solar panels ground yang merupakan sumber energi utama untuk Cochin International Airport.
Cochin International Airport gate.

Mau tahu Departure Hall Cochin International Airport?….Nanti ya kuperlihatkan….Sabar.

Yuk, eksplore !….

Ada apakah di Kochi?….

Kisah Selanjutnya—->

3 thoughts on “Melawan Gelisah di Cochin International Airport

Leave a Reply to travelingpersecond Cancel reply