Tangani Anemia dan Tingkatkan Produktivitas Bangsa

Sudah menjadi norma global, bahwa dalam masalah yang terkait dengan kesehatan maka segenap negara di dunia akan memberikan prioritas lebih pada penanganan jenis penyakit menular dan penyakit degeneratif (penurunan fungsi tubuh). Seperti pada konteks terkini, dunia disibukkan dengan pemutusan mata rantai penyebaran virus COVID-19 yang telah berlangsung genap setahun lalu. Pemusatan perhatian ini tentu didorong dengan keberadaan media yang banyak mempengaruhi opini pada berbagai aspek di level dunia. Tentu berita yang diproduksi media akan membuat sebuah negara bangga atas kabar kesuksesannya dalam menangani pandemi ini.

Sementara disi lain secara bersamaan, bahkan sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun tanpa teratasi dengan signifikan, terdapat sebuah bahaya laten yang berpotensi menimbulkan derivate masalah kesehatan lain, masih terjadi di sebagian besar masyarakat global. Masalah kesehatan ini tentu tidak boleh dianggap remeh karena penderitanya telah mencapai 30% dari jumlah keseluruhan penduduk dunia, Masalah itu bernama anemia.

Anemia Covention 2017 menyatakan bahwa Anemia Defisiensi Besi (ADB) atau jenis anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi adalah tantangan besar bagi sebuah negara karena efek panjangnya  akan mengganggu tumbuh kembang anak, menurunkan imuitas dan  penurunan  fungsi kognitif (fungsi otak dalam  menyeleksi, menyimpan, memproses dan mengembangkan informasi). Ditambahkan dengan sebuah fakta serius bahwa ketika anemia bisa disembuhkan, akan tetapi dampak yang diakibatkan selama menderita anemia tidaklah bisa diperbaiki kembali. Ini berarti bahwa beberapa penurunan fungsi kesehatan dalam tubuh selama menderita anemia akan menyumbang derajat penurunan kualitas si penderita.  

Anemia Defisiensi Besi seperti dikutip dari WebMD, terjadi ketika tubuh tidak cukup memiliki sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Tubuh membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin, yaitu protein yang membantu sel darah merah dalam mendistribusikan oksigen. Saat zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh mengalami kekurangan, maka tubuh akan mengalami gejala seperti lelah, lemah, kulit pucat atau kuning, sesak napas, pusing dan sakit kepala.

Katalisator Anemia

Faktor-faktor penyebab anemia dan strategi memutus mata rantainya.

Anemia pada masyarakat tentu tidak datang dengan sendirinya. Keluhan kesehatan ini pada umumnya terjadi melalui akumulasi jangka panjang yang bahkan tidak disadari atau dipahami oleh si penderita. Beberapa faktor pencetus terjadinya anemia dalam masyarakat bisa disimpulkan dengan sangat mudah, diantaranya adalah:

  1. Tingkat Pendidikan

Di belahan dunia manapun, semua khalayak memahai bahwa pendidikan yang baik akan meningkatkan kualitas hidup. Dan selain tingkat pendapatan, salah satu indeks dalam pengukuran kualitas hidup adalah tingkat kesehatan. Tingkat pendidikan akan membangun tingkat kesehatan sebuah bangsa melalui mindset influence tentang gaya hidup sehat dan pemahaman masyarakat dalam menghindari faktor-faktor tertentu yang akan menurunkan kualitas kesehatan. Dengan pendidikan, masyarakat akan menentukan komposisi diet harian menggunakan prioritas kualitas dan bukan kuantitas. Keseimbangan mikronutrien (vitamin dan mineral) akan menjadi perhatian utama dalam masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik.

2. Pola Hidup

Tetapi tentunya pengetahuan yang baik dan memadai tentang gizi harus sungguh-sungguh diaplikasikan melalui kebiasaan-kebiasaan baik dalam menerapkan kualitas diet. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang nantinya akan membentuk pola dan perilaku hidup sehat. Sedangkan pola hidup akan menentukan tingkat asupan vitamin dan mineral. Tetapi tingkat pendidikan yang baik akan menjadi percuma apabila masyarakat tidak peduli dan tidak berpegang teguh pada aspek kesehatan. Pada level ini, masyarakat akan dikatakan gagal dalam menciptkan kebiasaan hidup sehat.

Kebiasaan negatif dalam pola diet akan membawa masyarakat pada ketidakseimbangan gizi. Padahal pola diet masyarakat secara keseluruhan akan membentuk status gizi masyarakat itu sendiri, karena status gizi merupakan cerminan kecukupan konsumsi zat gizi di masa-masa sebelumnya. Ini berarti bahwa status gizi saat ini merupakan hasil akumulasi dari status gizi harian beberapa periode waktu sebelumnya. Contoh nyata ketidakseimbangan gizi  adalah obesitas yang menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia dengan Amerika Serikat sebagai negara penderita terbesar epidemi ini.

Perilaku gizi yang salah juga mulai mewabah pada kalangan muda di seluruh dunia. Dan akhirnya, masalah anemia timbul karena perilaku tersebut. Telah terjadi ketidakseimbangan antara konstitusi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan dalam kesehatan. “Makanan sampah” (junk food) saat ini menjadi makanan favorit banyak kalangan, baik sebagai cemilan ataupun pengganti “makan besar”. Selain itu, tidak disiplin dalam tiga kali waktu makan setiap harinya semakin memperbesar peluang masyarakat terkena anemia.

3. Tingkat Ekonomi

Taraf ekonomi masyarakat juga menjadi syarat untuk mencegah anemia. Tingkat ekonomi secara linear tentu akan mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk mendapatkan zat gizi dengan lebih baik. Selain itu, tingkat ekonomi juga akan mempengaruhi akses masyarakat terhadap entitas kesehatan untuk melakukan konsultasi pencegahan ataupun tindakan pemulihan anemia serta penyakit lainnya. Banyak sekali negara yang mengalami kesenjangan tingkat ekonomi dalam masyarakatnya kewalahan dalam menangani anemia, Tiongkok adalah salah satu contohnya.

Kini masalah menjadi ganda karena disamping harus dilakukan beberapa intervensi langsung pemerintah pada penanganan anemia dalam jangka pendek, tentu pemerintah juga memiliki pekerjaan rumah yang panjang dan membutuhkan konsiten untuk menangani beberapa sendi ekonomi masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang bisa menjangkau fasilitas-fasilitas kesehatan.

Memutus Mata Rantai

Anemia memang sudah menjadi masalah dunia. Menurut World Health Organization, prevalensi (proporsi dari populasi) anemia di dunia mencapai 40-88%. Sedangkan di Indonesia, angka Anemia Defisiensi Besi (ADB) mencapai angka 72,3%.

Grafik anemia di Indonesia berdasarkan kelompok umur di Indonesia (sumber: Riset Kesehatan Dasar, Badan Litbangkes Kemenkes RI).

Angka-angka di atas tentu menjadi perhatian semua pihak untuk bersama-sama dalam menangani masalah anemia, memutus rantainya dan membebaskan masyarakat dari masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh anemia. Beberapa langkah penting yang selayaknya ditempuh untuk mengurangi tingkat anemia di negeri ini diantaranya:

  1. Penyuluhan dan Pemahaman

Pemberian pemahaman yang terencana sangat dibutuhkan untuk menyadarkan masyarakat perihal anemia beserta dampak negatifnya. Tentu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menjalankan ini. Dibutuhkan usaha berkesinambungan dan investasi dana dari semua pihak untuk memberikan pemahaman dalam masyarakat. Proses pemahaman juga membutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektoral. Bentuk pemahaman kepada masyarakat bisa dilakukan melalui penyebarluasan informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia.

Pemahaman kepada masyarakat juga bisa dikerjakan oleh organisasi non-pemerintah dan lembaga non-profit lainnya untuk membantu pemerintah dalam mempercepat proses penurunan prevalensi anemia di negeri ini. Bahkan proses ini harus tetap dilakukan sama intensifnya seperti masa normal, di masa pandemi COVID-19, setiap pihak yang berkepentingan dalam proses ini harus kreatif dan jeli melakukan pemahaman dengan bantuan teknologi, seperti penggunaan media massa maupun media sosial. Diharapkan di masa depan, penyuluhan tentang pola sehat mengkonsumsi menu makanan yang seimbang akan menciptakan masyarakat yang mampu menangani anemia secara mandiri. Tentu ini akan menjadi cara efektif untuk menurunkan prevalensi anemia yang muncul dari inisiatif mandiri dari masyarakat.

Salah satu gerakan yang sangat konsiten dalam membantu pemerintah dalam melakukan pemahaman gizi terhadap masyarakat adalan gerakan Nutrisi Untuk Bangsa (NUB) bersama Danone Indonesia. Nutrisi Untuk Bangsa adalah gerakan dari masyarakat untuk masyarakat yang peduli akan masalah-masalah gizi di Indonesia.

Salah satu bentuk penyuluhan secara daring oleh Nutrisi Untuk Bangsa (NUB) tentang pentingnya vitamin C untuk penanganan anemia

2. Intervensi

Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) tahun 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban ganda gizi yaitu stunting dan malnutrisi kronis. Malnutrisi sendiri adalah salah satu penyebab utama dari anemia.

Pemerintah telah mengambil langkah fortifikasi pada beberapa jenis bahan pangan yang beredar di pasaran. Fortifikasi merupakan proses penambahan mikronutrien (vitamin dan mineral) pada bahan pangan. Fortifikasi merupakan langkah efektif dan berbiaya rendah untuk melakukan percepatan perbaikan gizi masyarakat. Dan bahan pangan yang difortifikasi tentunya adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat secara luas dalam berbagai tingkat ekonomi. Fortifikasi yang dilakukan pemerintah adalah penambahan zat besi pada tepung terigu, Iodium pada garam dan Vitamin A pada minyak goreng. Dari mekanisme ini maka sudah jelas bahwa kebijakan fortifikasi pangan harus didukung oleh partisipasi penuh industri pangan terkait.

Contoh negara yang berhasil dengan program yang sama adalah Chili. Chili menerapkan National Complementary Feeding Program (NCFP) dengan memfortifikasi susu pertumbuhan dengan zat besi untuk mengurangi prevalensi anemia anak usia 11 hingga 18 bulan. Fortifikasi susu pertumbuhan di Chili menjadi intervensi efektif dalam meningkatkan mikronutrien besi pada bayi dan anak-anak. Bahkan Chili diakui dunia sebagai salah satu negara yang berhasil melakukan intervensi dalam menurunkan prevalensi anemia.

3. Membangun Kebiasaan Lingkungan

Membentuk kebiasaan di lingkungan tentang pentingnya pemenuhan gizi akan menjadi proyek efektif untuk membentuk masyarakat bebas anemia. Faktor kebiasaan lingkungan sangat mempengaruhi pola komposisi gizi masyarakat secara keseluruhan. Tapi tentu ini merupakan cara paling menantang untuk dilakukan karena dibutuhkan kerjasama semua stakeholder untuk menciptakan sistem lingkungan yang mendukung pemenuhan gizi seimbang. Karena diperlukan pengawasan ketat di setiap tahap mulai dari tingkat keluarga dengan memastikan pemahaman yang baik tentang gizi, pengawasan di sekolah untuk menciptakan kantin sehat yang peduli gizi serta pengawasan bisnis kuliner dan pangan sekitar yang mendukung program ini. Dibutuhkan kebijakan resmi dari pemerintah perihal konsep ini.

4. Norma Konsumsi

Pada level pemahaman yang tinggi tentang fungsi gizi pada masyarakat maka pemahaman mereka bisa ditingkatkan dengan pemahaman pendukung lain untuk membuat pemahaman masyarakat kian sempurna.

Hal-hal kecil dan sepele yang mempengaruhi proses peningkatan status gizi perlu dipahami. Karena terkadang hal-hal sepele tersebut menjadikan sebuah program gizi kurang maksimal. Oleh karenanya perlu terus dilakukan penelitian untuk menemukan faktor penghambat ringan ini.

Contoh sepele dalam kebiasaan ini adalah kebiasaan minum teh setelah makan yang sejatinya akan menghambat program penurunan prevaleni anemia walaupun dalam skala kecil, karena zat tanin dalam teh akan menghambat penyerapan zat besi oleh tubuh. Berdasar penelitian, waktu terbaik meminum teh adalah satu jam sebelum atau setelah makan. Nah, apakah kamu memiliki pengetahuan sepele tetapi penting perihal ini?

Penelitian lain juga mengatakan bahwa 50-60 % Anemia Defisiensi Besi (ADB) sebenarnya bisa dipenuhi hanya dari makanan sehari-hari. Hanya saja masyarakat banyak yang tidak tahu bagaimana mengkomposisikannya.

Anemia dan Produktivitas

Berbicara mengenai anemia maka kita harus melihat makna produktifitas secara filosofis. Maka secara filosofis, produktifitas adalah suatu pandangan hidup bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Pengertian ini memberikan makna bahwa kita harus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu, salah satunya adalah kualitas kesehatan.

Terkait dengan anemia maka gejala utama yang sering diremehkan seperti Lemah, Letih, Lesu, Lunglai dan Lelah (5L) secara langsung akan berdampak pada konsentrasi dan aktivitas produktif yang dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas hidup.  Remaja penderita anemia tidak akan memiliki semangat belajar karena gangguan konsentrasi. Sehingga anemia bisa dikatakan berpengaruh secara tidak langsung terhadap prestasi. Padahal prestasi sangat diperlukan untuk menciptakan generasi unggul penerus bangsa.

Anemia telah menjadi masalah pada generasi muda bangsa. Perlu diketahui bahwa kadar Hemoglobin (Hb) yang rendah akan menurunkan daya tahan tubuh. Sementara pada anak-anak, kondisi ini dapat menurunkan kecerdasan, pendengaran hingga fungsi motorik sehingga anak akan merasa cepat lelah. Pada jangka panjang, anak-anak penderita anemia akan memiliki kekurangan dalam kemampuan bahasa, mejadi peragu, penakut dan kurang tanggap terhadap sekitar sehingga mereka akan menjadi sosok yang kurang tanggap terhadap lingkungan.

Dalam konteks High Order Thinking Skill (HOTS) yang merupakan kompetensi yang dibutuhkan di Abad 21, tentu anemia akan membuat siswa mengalami kesulitan dalam menganalisa, berfikir kritis, memecahkan masalah dan daya kreasi. Dan pada saat dewasa, anak-anak ini menjadi rentan dalam persaingan dunia kerja yang semakin ketat dan terbuka untuk seluruh warga dunia.

Jadi mari kita selamatkan generasi muda kita dengan mengeluarkannya dari permasalahan anemia dengan dampak seriusnya.

Informasi tambahan tentang kesehatan bisa anda temukan di:

Instagram: @NutrisiBangsa @Nutri_Indonesia

#HariGiziNasionalNUB

#Anemia Defisiensi Besi

#Penyerapan Zat Besi

#Zat Besi

#Danone Indonesia

#Susu Pertumbuhan

#Vitamin C

Sumber:

  1. https://kebijakankesehatanindonesia.net/
  2. Nur Ia Kaimudin et al . (2017). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (JIMKESMAS). Skrining dan Determinan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri SMA Negeri 3 Kendari.
  3. https://m-antaranews-com.cdn.ampproject.org/
  4. https://academic.oup.com/
  5. https://kebijakankesehatanindonesia.net/
  6. https://cegahstunting.id/
  7. Iron Deficiency Anaemia, Assessment, Prevention, and Control, A guide for programme managers. United Nations Children’s Fund, United Nations University, World Health Organization.
  8. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/
  9. https://www-presidenri-go-id.cdn.ampproject.org/

Leave a Reply